Selasa, 27 Oktober 2015

Blogger Camp 2015: "Nylekamin, Cengis, dan Resolusi Ketenger"

Dunia blogging di Indonesia dapat dipastikan salah satu yang paling heboh di dunia. Saking hebohnya pada tahun 2007 pemerintah menetapkan 27 Oktober sebagai "Hari Blogger Nasional".

Terlalu berlebihankah "Hari Blogger Nasional"? Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak.

Jawaban iya berlebihan karena sepertinya blogger di Indonesia jadi warga negara yang sangat diperhatikan dibandingkan dengan misalnya budayawan atau sastrawan atau penulis yang sudah lebih dulu memberi sumbangsih besar bagi peradaban bangsa Indonesia. Sampai hari ini pemerintah belum pernah menetapkan adanya "Hari Budayawan/Sastrawan/Penulis Nasional". Dan kita semua tahu para santri saja - yang ikut berjuang mati-matian dalam merebut kemerdekaan bangsa Indonesia pada tahun 1945 - baru dapat "Hari Santri Nasional" mulai 22 Oktober tahun 2015 ini!

Jawaban penetapan "Hari Blogger Nasional" tidak lah berlebihan karena sepertinya pemerintah mempertimbangkan aspek pembangunan ekonomi dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Faktanya, masyarakat yang ingin nge-blog butuh listrik, jaringan internet, notebook atau smart phone. Karena nge-blog bisnis PLN, provider seperti indosat, dan berbagai produsen notebook atau smart phone bisa tumbuh dan itu semua dapat memutar roda ekonomi negara. Dengan menetapkan "Hari Blogger Nasional" pemerintah juga ingin mendorong masyarakat untuk suka membaca dan terbiasa menulis. Masyarakat makin cerdas dan pintar. Kita semua tahu banyak buku-buku best seller yang lahir sebelumnya dari tulisan-tulisan di blog-blog pribadi.

Fenomena nge-blog dan blogger tumbuh membesar di Indonesia delapan tahun belakangan ini. Media-media on-line nasional tak mau ketinggalan menyediakan kanal khusus blogger, blog untuk para pembacanya. Misalnya detikcom punya blogdetik, tempodotco dengan politikana, dan kompasdotcom memunculkan kompasiana.

Lalu pada perkembangannya blog-blog muncul sesuai kebutuhan. Ada blogger yang khusus membahas keluarga, gaya hidup, jalan-jalan/plesir, kuliner, dan sepertinya yang "hanya terjadi di Indonesia" ada blogger urusan pilkada dan pilpres terutama makin seru dengan munculnya fenomena "Jokowi-effect" pada Pilkada DKI 2012 dan Pilpres 2014 lalu.

Kini, persoalan muncul apakah semua content yang ditulis dalam blog itu "credible", dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan?

Persoalan kredibiltas blog ini lah yang dibahas dalam kegiatan "Blogger Camp Indonesia 2015" yang berlangsung di empat kota di Indonesia, yaitu Jakarta, Purwokerto, Surabaya, dan Makassar, 26-27 Oktober ini sebagai salah satu acara penting mengisi "Hari Blogger Nasional" tahun 2015.

Dibanding tiga kota lainnya, Kota Purwokerto jadi tempat penyelenggaraan paling seru dan beragam. Peserta yang datang bukan dari Purwokerto saja. Mereka - ada 25 orang - datang dari Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Bekasi, Serang, Banjarnegara, Banyumas, Cilacap, Wonosobo, dan Pekalongan. Pesertanya ada yang masih pelajar SMA, mahasiswa, karyawan, wartawan, dosen, dan aktivis buruh migran.

"Senang sekali Purwokerto jadi tuan rumah Blogger Camp Indonesia 2015. Baru sekali ini Purwokerto jadi tempat kegiatan blogger tingkat nasional," ungkap Pungky Prasetyo, ketua panitia Blogger Camp Purwokerto, saat menyambut para peserta pada Senin (26/10) sore yang sedikit gerimis dan mulai berkabut di Wisma Putih, PLTA Ketenger, Purwokerto, di ketinggian 640 dpl.

Tiga pembicara yang hadir di Purwokerto adalah Pradna Paramita, Mira Sahid, dan Noviana Eva. Pradna membahas betapa dahsyatnya gerakan desa internet di Purwokerto (Jawa Tengah), Ciamis (Jawa Barat), dan Pidie (Nanggroe Aceh Darussalam). Desa-desa tersebut bahkan sudah menerapkan teknologi teleconference dan memanfaatkan link YouTube untuk rapat-rapat desa! Mira memberikan pengalamannya bagaimana mengelola blog sehingga dapat menghasilkan uang dan jadi pekerjaan yang mengasyikkan. Sementara Eva berbagi ilmu tentang "content and marketing".

Selain acaranya asyik, seru, dan akrab, yang menarik di Blogger Camp Purwokerto yang disponsori "Indosat Love" ini adalah inisiatif para peserta untuk memajukan dunia blogger di Indonesia. Mereka membuat catatan penting yang diberi nama "Resolusi Ketenger". Ada tujuh catatan yang tertuang dalam "Resolusi Ketenger". Yang paling utama adalah menuntut pemerintah untuk segera membangun infrastuktur yang mendukung industri telekomunikasi sehingga jaringan internet super cepat merata di seluruh pelosok Tanah Air.

Ide "Resolusi Ketenger" yang terdengar heroik dan mengandung unsur bela negara itu tercetus penuh semangat oleh para peserta setelah mereka menikmati kuliner khas Purwokerto, Soto Sroto Sokaraja yang "nylekamin" (enak banget) pada saat welcome party semalam, dan sarapan pecel khas Banyumas dengan ndog puyuh serta mendoan yang dimakan bareng "cengis" (cabe rawit yang pedas sekali). Pokoke, Blogger Camp Purwokerto - yang disponsori "Indosat Love" - maen mbanget! (*)

Abi Hasantoso
Wisma Ketenget, Purwokerto
27 Oktober 2015
12:30 WIB

#bloggercampid #lovekonten #pwr #purwokerto #nylekamin #cengis #pokoke #maen #mbanget #indosatlove #haribloggernasional 

Rabu, 30 Desember 2009

Presiden Abdurrahman Wahid dan Surat 18.45

Hujan mengguyur Jakarta pada Rabu (30/12) sore. Lumayan deras. Di dalam sebuah gedung bertingkat di lantai 12 tak terdengar suara menggelegar petir dan halilintar yang menyambar.

Menjelang Maghrib hujan sudah mulai reda. Tapi justru sebuah ”petir” berita yang mengagetkan kita semua saat kita mendengar berita wafatnya Presiden Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur, yang dikabarkan berpulang ke rumah Tuhan pada pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, pada usia 69 tahun 114 hari. Gus Dur meninggalkan istrinya, Shinta Nuriyah, empat anak perempuan yang disayanginya, dan lebih dari 231 juta rakyat Indonesia.

Kita sebagai bangsa, tentu, sangat sangat sangat berduka.

Karena Gus Dur – kelahiran Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 – adalah salah satu tokoh penggerak demokrasi di Indonesia. Ia yang gigih memperjuangkan kesamaan dan kesetaraan hak bagi seluruh warga negara Indonesia. Ia pendukung setia keberagaman. Ia selalu berada di baris terdepan melawan kezaliman.

Ia muslim yang melintasi seluruh agama. Ia mengayomi penganut agama-agama lain, meski dirinya seorang kyai dan keturunan darah biru pendiri organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU).

Saya salah satu pengagumnya, dari dulu sampai kapan pun. Apalagi ketika dia jadi presiden. Bayangkan, ”seorang anak pesantren”, bukan tentara, bukan lulusan Harvard University, berhasil menjadi presiden.

Langkah-langkahnya, di luar urusan pergi melanglang buana ke sejumlah negara, saat menjadi presiden sungguh jelas. Ia memisahkan polisi dari tentara. Ia mempelopori pembentukan KPK. Ia melikuidasi Departemen Penerangan, dan yang paling dahsyat ia meminta Golongan Karya (Golkar) dibubarkan saja! Ia memperteguh langkah menuju jalan demokrasi bagi Indonesia: kebebasan pers dan kebebasan berpendapat yang dilindungi Undang-Undang.

Hebatnya, di dunia internasional, Gus Dur menggebrak dengan ide membentuk poros baru New Delhi – Jakarta – Tokyo – Beijing. Yang membuat Presiden AS Bill Clinton mau tidak mau menerima kehadiran Gus Dur di Gedung Putih, meski sebelumnya sama sekali tak ada jadwal keduanya untuk bertemu. Mungkin, karena ide besarnya itulah, Gus Dur harus dijatuhkan. Karena Gus Dur tak mau disetir Amerika a.k.a. Neolib.

Di sebuah lapangan terbuka dekat Monas, bersama sekumpulan massa pendukungnya, saya sempat mengantar Gus Dur keluar Istana Negara menuju Amerika Serikat untuk berobat (sebuah alasan yang dicari-cari supaya Gus Dur bisa meninggalkan Istana secara elegan), tak lama setelah dijatuhkan oleh keputusan Sidang Istimewa MPR RI pada 23 Juli 2001. Bersama sejumlah teman, saya menangis pada hari itu. Menyaksikan ketegaran Gus Dur ”dikeroyok” dan ”dipukuli” sampai ”mati” oleh lawan-lawan politiknya. Tanpa memberikan perlawanan, selain dengan lambaian tangannya dengan pakaian tidur – bercelana kolor – di luar serambi Istana.

Sebetulnya, Gus Dur bisa saja melawan. Karena Pasukan Berani Mati dari berbagai daerah, terutama dari Jawa Timur, siap membelanya sampai titik darah penghabisan. Tapi, Gus Dur bukan lah seorang yang gila kekuasaan. Seperti Bung Karno, ia tak ingin terjadi pertumpahan darah. Ia lebih baik memilih jalan damai, ahimsa, jalan damai anti-kekerasan yang diajarkan Mahatma Gandhi, salah satu tokoh dunia yang dikaguminya.

Lebih dari itu, Gus Dur lah yang kembali memulai mempopulerkan batik sebelum kita heboh setahun ini soal memakai baju batik secara massal pada 2 Oktober lalu. Hampir tiap hari Gus Dur – dan anggota kabinet – berbatik di Istana. Termasuk saat menerima tamu-tamu negara: presiden, perdana menteri, hingga raja dan ratu. Beberapa motif batik sempat identik dengan Gus Dur. Kalau kita ke butik atau toko batik, juga Pasar Beringhardjo Yogya, sering kali kita ditanya dan ditawarkan apa sedang mencari motif batik Gus Dur.

Lebih daripada itu, Gus Dur lah yang membuka pintu bagi perayaan imlek, sehingga tiap tahun sekarang kita akrab dengan atraksi barongsay. Gus Dur lah yang menjadikan Kong Hu Cu sebagai salah satu agama resmi di Indonesia, menyusul Islam, Katholik, Kristen Protestan, Hindu, dan Budha. Ia begitu dikagumi masyarakat Tiongha. Terlebih lagi saat Gus Dur menyatakan bahwa ia punya darah China dari salah satu buyutnya.

Gus Dur fasih berbagai bahasa. Termasuk bahasa Al Quran. Dan dia juga mempelajari Al Quran secara mendalam. Gus Dur mempunyai beberapa surah dalam Al Quran yang menjadi amalannya sehari-hari. Salah satu surah favoritnya adalah Al Kahfi.

Entah kebetulan entah tidak jam wafatnya Gus Dur adalah 18.45 WIB. Subhanallah, Al Kahfi itu surat ke-18 di dalam Al Quran. Surat Al Kahfi yang berarti goa ini terdiri dari 110 ayat. Terjemahan Ayat 45 Al Kahfi berarti: “Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia) bahwa kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah maha berkuasa atas segala sesuatu.”

Gus Dur pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya ketika "air hujan yang turun dari langit" mulai reda. Ia bagai "tumbuhan yang mengering". Ia bakal "diterbangkan oleh angin". Karena kekuasaan-Nya, kini, Gus Dur menuju “goa” - rumah - Tuhan yang abadi. Yang damai di surga nun di sana....

Ada lagi kebetulan pada jam wafatnya Gus Dur. Dalam mitologi China yang suka mengotak-atik angka, angka 18.45 adalah angka sempurna. 1 + 8 = 9. Juga 4 + 5 = 9. Jika digabung angka 99 adalah angka ganjil yang juga menjadi simbol kesempurnaan umat Islam. Banyak amalan-amalan bacaan doa-doa yang diucapkan berbilang 9 dan 99. Bahkan 99 adalah nama-nama indah Tuhan yang biasa disebut asmaul husna.

Kita yakin, Gus Dur berpulang ke rumah Tuhan dalam keadaan penuh kesempurnaan setelah menunaikan tugasnya sebagai pemimpin yang rahmatan lil alamin, yang memberi rahmat bagi semua umat manusia, khususnya di Tanah Air kita.

Kita patut menangis dan berduka atas kepergian Gus Dur yang sempat bernama Presiden Abdurrahman Wahid.

Ia orang besar. Dengan gagasan-gagasan besar yang disampaikan dengan guyonan khas ”Gitu aja, kok, repot...!” untuk bangsa dan negara kita Indonesia.

Selamat jalan Presiden Abdurrahman Wahid....

Kami pasti selalu merindukan sosokmu yang selalu tampil sederhana bersahaja polos ceplas-ceplos dengan sepatu sandal di tengah Indonesia masa kini yang setiap hari makin hiruk pikuk dengan urusan pencitraan pribadi yang penuh sapuan kosmetik artifisial, korupsi yang semakin menggurita, dan bantah membantah fitnah.... (*)


AH
30 Desember 2009
20:30 WIB

Jumat, 23 Oktober 2009

LIGA MEDCO 2009 - Arifin Panigoro: "Kita Harus Terus Mencari Pesepakbola Berbakat"

Liga Medco, ajang pencarian pesepakbola nasional usia muda di bawah 15 tahun yang diselenggarakan PSSI dan Medco Foundation, memasuki tahun keempat sejak pertama kali bergulir pada 2006 lalu. Tahun 2009 ini Liga Medco diikuti 24 tim yang akan berkompetisi di 11 kota. Siapa juara Liga Medco 2009, menyusul sukses Maluku, DKI Jakarta, dan Jawa Timur?


Jakarta, 23 Oktober 2009 - Liga Medco kembali bergulir. Tahun ini memasuki penyelenggaraan tahun keempat. Sejak digulirkan pada tahun 2006, kompetisi sepakbola nasional untuk anak-anak di bawah usia 15 tahun ini, menjadi ajang pencarian bakat pesepakbola nasional berusia muda. Selama tiga musim kompetisi terakhir, tak kurang dari 1500 pesepakbola berbakat dari seluruh Indonesia sudah merasakan manfaat Liga Medco sebagai wadah untuk dapat tampil di tingkat nasional.

”Sepakbola kita harus kembali berjaya di Asia. Kita memerlukan pesepakbola berbakat untuk memenuhi kebutuhan tim nasional kita. Satu-satunya jalan adalah kita harus terus mencari pesepakbola berbakat dari seluruh Tanah Air,” papar Arifin Panigoro, pendiri kelompok usaha Medco.

Arifin Panigoro, yang bersama almarhum Ronny Pattinasarany menggagas penyelenggaraan Liga Medco ini, yakin sepakbola Indonesia dapat bangkit kembali mengejar ketertinggalannya. Kuncinya ada di pembinaan usia dini. ”Masa depan sepakbola kita, yang kita harapkan kembali berjaya, ada di anak-anak usia 15 tahun ini. Kita harus memberikan kesempatan kepada mereka untuk tampil di kompetisi tingkat nasional. Dari sini mereka akan melewati tahapan-tahapan penting pembentukan diri sebagai pemain nasional di jenjang usia 17, usia 19, dan usia 21, sebelum masuk skuad timnas senior,” jelas Arifin Panigoro.

Babak penyisihan Liga Medco 2009 secara resmi mulai bergulir pada Minggu (25/10) hingga Kamis (29/10) di enam kota. Tahun ini kompetisi diikuti 24 tim yang terbagi dalam 6 grup. Grup I terdiri dari Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi; Grup II berisi Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau; Grup III diikuti Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta. Grup IV terdiri dari Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, NTB; Grup V berisi Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara; dan Grup VI diikuti Maluku, Sulawesi Utara, Papua, Papua Barat.

Juara dan runner-up di babak penyisihan berhak melaju ke babak 12 besar yang akan terbagi dalam 4 grup. Babak 12 besar, rencananya, bergulir pada 23 – 30 November mendatang. Memasuki putaran final, hanya 4 tim terbaik yang merupakan juara masing-masing grup di babak 12 besar saja yang akan berlaga di Jakarta pada 4 – 6 Desember 2009.

Uniknya, setiap tahunnya Liga Medco selalu melahirkan tim juara yang ditentukan melalui tendangan penalti. Pada penyelenggaran tahun 2006, Maluku menjadi juara setelah mengalahkan DKI Jakarta melalui drama adu penalti. Tahun 2007 giliran DKI Jakarta juara setelah menang adu penalti juga atas Jawa Timur. Dan tahun 2008 lalu, Jawa Timur lah yang menjadi juara melalui satu gol dari titik penalti.

Selama tiga kali penyelenggaraan Liga Medco (2006 – 2008), yang didukung penuh Medco Foundation, banyak pesepakbola berbakat terjaring dan berhasil masuk skuad tim nasional sepakbola Indonesia U-15 dan U-16. Bahkan tim nasional Indonesia U-19 saat ini, yang melakukan pemusatan latihan nasional selama dua tahun di Uruguay, hampir seluruhnya diisi pemain-pemain yang berasal dari Liga Medco tahun 2006 dan 2007. Tim U-19 ini rencananya akan berlaga di Kejuaraan Asia AFC U-19 di Bandung, 7 – 13 November yang akan datang.

”Kami berharap para pemain terbaik dari Liga Medco 2009 ini dapat pula menjadi para pemain inti timnas U-16 kita yang akan berlaga di Kejuaraan Asia AFC U-16 di Manila, Filipina, tahun 2010. Karena kami ingin Liga Medco menjadi bagian integral yang dapat membantu pembinaan dan program kerja PSSI dalam mencari pemain berbakat di seluruh Indonesia,” papar Direktur Operasional Medco Foundation Roni Pramaditia.

Seperti diketahui, pada 16 Januari lalu, PSSI dan Medco Foundation sudah melakukan penandatanganan perpanjangan kerjasama untuk melanjutkan kompetisi Liga Medco selama tiga tahun hingga tahun 2011.

Kompetisi Liga Medco 2009 akan dipantau PSSI dan BTN. Tahun ini akan menurunkan tim pemandu bakat yang terdiri dari mantan pemain nasional, antara lain Risdianto, Bambang Nurdiansyah, Zulkarnaen Lubis, dan Max Pieter. (*)

Selasa, 15 September 2009

Roti Gambang Unyil Kiriman Ibu Rosiy

Seminggu menjelang lebaran menjadi hari-hari “terberat”. Lantaran banyaknya undangan berbuka puasa dari mana-mana. Bayangkan, dalam satu hari bisa ada dua sampai tiga undangan berbuka puasa. Padahal waktu berbuka puasa itu terjadi sekali: pada saat berkumandangnya adzan sholat Maghrib. Tak mungkin kan kita datang memenuhi undangan berbuka puasa di beberapa tempat yang berbeda pada saat yang sama.

Akhirnya, dengan “berberat” hati, kita terpaksa hanya memilih satu undangan dan membatalkan dua tiga undangan lainnya dengan cara mencari-cari alasan yang tepat supaya pengundang tidak tersinggung. Selain itu, menjadi “berat” lantaran perjalanan menuju tempat berbuka puasa, biasanya di restoran atau pusat perbelanjaan, di mana-mana dipenuhi kendaraan yang memadati jalan-jalan. Alias macet di mana-mana. Tambah “berat” lagi sebab cuaca di Jakarta belakangan ini lagi panas-panasnya, bisa mencapai 41 derajat celcius.

Senin (14/9) sore kemarin, kompasiana mengundang blogger-bloggernya berbuka puasa bersama. Tak kurang dari 100 orang diundang, dan lebih dari 80% undangan menyatakan akan hadir. Mengantisipasi hal-hal yang “berat” tadi, sejumlah blogger datang sangat awal. Ada yang tiba pukul 4 sore di tempat acara berbuka, Restoran Dapur Sunda yang terletak di kawasan Cipete Raya, Jakarta Selatan.

Saya datang ke acara buka bersama kompasiana dengan membatalkan salah satu undangan berbuka puasa lainnya. Kebetulan yang mengundang kakak ipar. Jadi, dia bisa maklum. Karena kumpul-kumpul dengan blogger kompasiana tak bisa setiap minggu, apalagi setiap hari. Saat saya datang, acara baru saja dibuka. Pemimpin Redaksi kompasiana Taufik H. Mihardja menyatakan bahwa setelah pemilu pengunjung kompasiana agak menurun. Bisa dimaklumi. Karena banyak orang berkepentingan di masa pemilu. Maka seluruh saluran komunikasi dengan calon pemilih banyak didatangi tim sukses. Tak terkecuali kompasiana. Selain itu, Mas Vik, begitu ia biasa dipanggil, menginformasikan bahwa tampilan kompasiana akan lebih canggih dan interaktif lagi mirip facebook, termasuk dominasi warna biru, pada 22 Oktober mendatang tepat setahun on-line-nya kompasiana di ranah dunia maya di Tanah Air.

Menjelang berbuka, tampil ke atas pentas wartawan kompas.com sekaligus penulis tetap di kompasiana, Jodhi Yudhono, menembangkan beberapa lagu ditemani Arul Lamandau, musisi jalanan penggesek dawai biola. Jodhi juga mengundang Linda Djalil, salah satu wanita yang beruntung dibuatkan puisi oleh penyair agung W.S. Rendra. Pertama-tama, Mbak Linda, begitu panggilan akrab mantan wartawati Majalah TEMPO dan GATRA ini, membaca puisi tentang Ibu karya Unang Muchtar, salah seorang blogger yang aktif menulis di kompasiana. Lalu ia membaca Pamflet Cinta, salah satu puisi W.S. Rendra yang ditulis khusus untuknya yang saat itu masih gadis berusia 18 tahun. “Badan gw masih separonya yang sekarang,” kata Mbak Linda, sebelum membacakan puisi W.S. Rendra itu.

Saat berbuka puasa, dengan teh manis hangat dan kolak pisang, sudah pula tersaji di atas meja hidangan yang enak-enak. Saking enaknya, bahkan ada yang tak hentinya mengisi piring dengan nasi, gurame goreng, karedok, ayam bumbu rujak, dan tahu tempe goreng. Butuh banyak makan, mungkin, lantaran tadi terjebak macet berjam-jam sebelum menuju Dapur Sunda. Toh, makanan yang tersedia lebih dari cukup. Jadi, tak ada masalah buat yang mau berkali-kali tambah.

Buka puasa ini tak melulu memikirkan diri sendiri. Para blogger yang hadir tergerak hati mereka untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah gempa yang berpusat di Tasikmalaya, Jawa Barat. Jumlah uang yang terkumpul lumayan banyak. Tepatnya, sebesar Rp 1,6 juta ditambah doa keikhlasan dan ketulusan senilai Rp 5 miliar dari seluruh blogger yang berkumpul malam itu. Jumlah itu jauh lebih banyak dibanding sumbangan presiden yang cuma Rp 5 miliar itu.

Yang mengejutkan, selain mendapat Majalah National Geographic Indonesia dan Intisari, sebelum pulang seluruh undangan dapat kejutan satu boks berisi sepuluh roti gambang unyil (karena ukurannya 1/8 ukuran roti gambang normal). Pengirimnya Rosiy Lawati, yang saat ini tinggal di Auckland, Selandia Baru, bersama suaminya yang bernama Les Glover. Ibu berusia 37 tahun itu membantu kakak iparnya yang membuat roti gambang unyil itu.

“Secara tidak langsung kawan-kawan kompasiana sudah membantu karyawan Si Eneng, kakak ipar saya, supaya bisa gajian bulan ini. Bulan lalu kan penjualannya macet karena supply gula arennya oplosan jadi Si Eneng pusing tujuh keliling, deh. Beginilah nasib usaha kecil, harus terus dibantu sehingga bisa mandiri,” kata Ibu Rosiy kepada Iskandar Jet, salah satu pengelola kompasiana.

Duh, jadi terharu. Seorang Ibu asal Indonesia yang sedang tinggal jauh dari Tanah Air melakukan upaya mulia dengan cara yang sangat sederhana. Membantu secara langsung dengan membeli supaya roda ekonomi usaha kecil bisa terus beputar. Seperti kita tahu, bank-bank kita tak melakukan upaya konkret buat membantu rakyat yang kreatif mencari nafkah. Bank-bank kita hanya mau membantu pengusaha-pengusaha kelas kakap yang sering kali ngemplang kredit dan kabur ke luar negeri. Ibu Rosiy bukan saja membantu kakak iparnya, tapi juga menyelematkan nasib para pekerja yang bekerja di usaha roti gambang unyil itu. Apalagi menjelang lebaran seperti saat ini. Ketika kemenangan ujian selama puasa Ramadhan dirayakan dengan makan-makan dan pameran pakaian serba baru di tengah kenaikan harga bahan-bahan pokok yang sangat tajam.

Seribu potong roti gambang unyil yang dibeli Ibu Rosiy dan menjadi oleh-oleh seluruh blogger kompasiana malam itu, ternyata, bisa menyelamatkan usaha kecil seperti yang dilakukan kakak iparnya. Ibu Rosiy, yang menjadi pemberi komentar paling setia blogger senior Prayitno Ramelan di kompasiana maupun facebook, menunjukkan rasa cintanya kepada Indonesia meski saat ini keberadaannya sangat jauh terpisah samudera.

Hati saya terenyuh malam itu karena roti gambang unyil kiriman Ibu Rosiy sebagai oleh-oleh yang dibawa pulang selepas berbuka puasa. Apa yang dilakukan Ibu Rosiy sungguh mulia. Terlebih lagi, dia tidak pernah kenal kita dan kita bahkan sama sekali belum pernah mengenalnya. Tapi, melalui kompasiana, Ibu Rosiy menganggap kita semua saudaranya. Sesuatu yang sebetulnya sangat khas Indonesia: peduli sesama. Tapi sesuatu itu, agaknya, kini sudah menjadi barang langka di antara kita.

AH
15 September 2009

Senin, 24 Agustus 2009

Malaysia Boleh, Selama Indonesia Tak Punya Harga Diri

Di akhir tahun 90-an, pemerintah Malaysia mencanangkan program Malaysia Boleh. Kata boleh di sini berarti hebat alias top sekali. Sejumlah pencapaian prestisius dicanangkan. Antara lain berdirinya beberapa bangunan fisik yang dijadikan landmark negeri jiran itu, seperti Menara Kembar Petronas, Kuala Lumpur International Airport, dan Sirkuit Internasional Sepang.

Bukan cuma bangunan-bangunan fisik itu saja yang masuk dalam program Malaysia Boleh. Diam-diam pemerintah Malaysia pada saat itu ingin menaklukkan puncak tertinggi di dunia, Mount Everest. Sebuah tim khusus dibentuk pemerintah Malaysia untuk pendakian ke atap tertinggi di dunia itu. Tim ini pun dipersiapkan secara serius dalam jangka waktu lama di Rusia. Tentunya, “proyek rahasia ini” menghabiskan pula biaya yang sangat besar. Lantaran tim ini memperkerjakan ahli-ahli terbaik dari Negeri Beruang Merah itu. Tugas tim ini hanya satu: menancapkan bendera Malaysia di puncak tertinggi di bumi ini!

Rencana prestisius Malaysia Boleh ke Mount Everest, rupanya, sampai ke telinga Komandan Kopassus (waktu itu) Mayjen TNI Prabowo Subianto. Salah seorang mantu Presiden Soeharto ini lalu mempersiapkan tim yang sama dengan waktu yang sesingkat-singkatnya (karena memang mempunyai keterbatasan waktu dan dana) yang dilatih di Pusdiklat Kopassus. Targetnya cuma satu: Tim Pendaki Gunung Indonesia harus mendahului tim Malaysia Boleh mencapai puncak Mount Everest.

Singkat kata, meski dengan pengorbanan yang sangat besar yang dialami dua orang pendakinya, Tim Indonesia sukses mengibarkan bendera Merah-Putih lebih dulu di puncak tertinggi di dunia itu. Selangkah lebih maju, mendahului tim Malaysia Boleh. Dengan kata lain, Malaysia boleh-boleh saja punya rencana ke Mount Everest, tapi faktanya Indonesia lah yang pertama tiba di sana. Tim Malaysia Boleh bisa dibilang gagal hebat, dan hanya bisa menggigit jari.... Panglima ABRI (waktu itu) Faisal Tanjung didampingi Prabowo langsung datang dengan helikopter memberikan ucapan selamat kepada Tim Pendaki Indonesia yang sukses “melibas” tim Malaysia Boleh di Mount Everest.

Kalau boleh menduga-duga apa yang ada di benak Prabowo saat itu, agaknya, dia tak mau Indonesia disaingi oleh sebuah negeri sangat kecil yang luasnya cuma sepersekian persen dari Pulau Kalimantan kita yang mahaluas itu untuk menjadi yang pertama meraih puncak Mount Everest. Bagi Prabowo, Mount Everest adalah simbol tertinggi dunia. Dan bangsa Indonesia sebagai salah satu negara terbesar di Asia harus tiba di sana lebih dulu, tak boleh didahului oleh tetangganya.

Tapi tak lama, gerakan reformasi merontokkan kekuasan Pak Harto. Karena dianggap sebagai bagian Keluarga Cendana, Prabowo pun terkena getahnya. Lebih parah dari itu, akibat gerakan reformasi yang tak jelas arahnya itu, bangsa Indonesia kian terpuruk. Keterpurukan itu pun masih terasa sampai saat ini.

Indonesia, kini, terbalik-balik jungkir balik. Menjadi negara yang limbung, bingung, linglung. Lupa akan kebesarannya. Lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai simbol negara sampai lupa dinyanyikan di sebuah acara kenegaraan.

Sekarang, terutama delapan tahun terakhir ini, giliran Malaysia yang unjuk kebolehan. Negeri jiran itu “mempermainkan” Indonesia dengan cara “merampas” sebagian warisan khas asli milik Ibu Pertiwi. Dua tahun belakangan ini, bahkan Malaysia selalu cari gara-gara. Mulai dari klaim atas lagu Rasa Sayange, motif batik, Reog Ponorogo (memang ada daerah di Malaysia yang bernama sama Ponorogo?), angklung, dan kini yang paling mutakhir klaim atas Tari Pendet yang jelas-jelas itu dari Bali (memang ada Bali juga di Malaysia?). Dan yang paling menyakitkan sebetulnya adalah penghancuran Indonesia sehancur-hancurnya yang dilakukan secara terang-terangan oleh seorang teroris asal Malaysia bernama Noordin M. Top yang sampai saat ini tidak bisa kita tangkap, dalam keadaan hidup-hidup ataupun mati.

Sampai kapan Indonesia akan terus “dipermainkan” Malaysia? Dan juga negara-negara lainnya?

Jawabannya adalah selama Indonesia tak punya harga diri sebagai sebuah bangsa yang besar.

Sayang, Prabowo bukan presiden kita. Dan Tuhan hanya sekali mengirim Soekarno, seorang presiden berdarah campuran Jawa Timur - Bali yang berani berkata, “Ganyang Malaysia!”

AH
24 Agustus 2009

Senin, 10 Agustus 2009

Driving Skills For Life - Ford Motor Indonesia: Mengemudi Secara Pintar untuk Menurunkan Tingkat Kecelakaan di Jalan

“Waktu kita habis di jalan. Otomatis resiko hidup kita ada di jalan juga. Meski kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di jalan, tapi kita bisa menghindari atau meminimalkan resiko kecelakaan yang mungkin terjadi kalau saja kita tahu caranya.”

Setiap harinya di Jakarta tak kurang dari 7.000.000 mobil berlalu lalang di jalan-jalan ibukota. Mulai yang bergerak sangat cepat di jalan-jalan raya, sampai yang bergerak perlahan di gang-gang sempit. Membludaknya jumlah kendaraan yang mondar-mandir di jalanan Jakarta itu mudah saja dipahami lantaran setiap bulannya rata-rata 10.000 mobil baru terjual dari show room. Selain itu, lalu lintas di Jakarta semakin padat saja karena jalan-jalan di ibukota juga berkurang lantaran sudah diambil menjadi perlintasan khusus busway. Macet di mana-mana jadi pemandangan kita sehari-hari. Dan lebih fatal dari itu, kecelakaan sering terjadi.

Menurut data Asian Development Bank (ADB) pada tahun 2003, di Indonesia terjadi lebih dari 24.500.000 kecelakaan. Jumlah total kecelakaan itu disumbang oleh kecelakaan mobil sebesar 16%, 73% oleh kecelakaan motor, dan sisanya kecelakaan oleh moda transportasi lainnya. Pada hasil survei enam tahun lalu itu, ADB pun mencatat 1.000.000 orang mengalami luka-luka dan 30.000 di antaranya meninggal dunia.

Maka, tak salah kalau World Health Organization (WHO), salah satu badan kesehatan dunia milik PBB, memprediksi bahwa pada tahun 2020 kecelakaan di jalan menempati peringkat ketiga sebagai penyebab utama kematian manusia. Padahal pada tahun 1998 WHO masih menempatkan kecelakaan di jalan di peringkat kesembilan. Telah terjadi lonjakan yang sangat signifikan, kenaikan drastis sebanyak enam tingkat, dalam kurun waktu 22 tahun. Itu artinya, kecelakaan lalu lintas menjadi masalah yang sangat serius yang harus mendapat perhatian kita bersama.

Kepedulian mengenai tingginya angka kecelakaan itu menjadi salah satu program utama Corporate Social Responsibility (CSR) PT Ford Mobil Indonesia (FMI) sejak tahun 2008 lalu dengan menggelar kegiatan Driving Skills For Live (DSFL) yang terbuka untuk masyarakat luas. Menurut Marketing Director FMI Davy Tuilan latar belakang penyelenggaraan DSFL karena Ford Motor Company (FMC), induk FMI dan Ford Motor di negara-negara lainnya di dunia, merasa bertanggungjawab kepada konsumennya. “Program DSFL ini diselenggarakan untuk meyakinkan masyarakat bagaimana produk mobil yang dihasilkan FMC tidak berdampak negatif terhadap kehidupan. Justru melalui DSFL ini kami ingin bergerak bersama masyarakat untuk bersama-sama menurunkan tingkat kecelakaan lalu lintas di jalan,” papar Davy ketika membuka program DSFL angkatan kesembilan yang berlangsung sehari penuh pada Sabtu (8/8) barusan di Pusdiklat Multifungsi Polri di Cikeas, dekat kawasan Cibubur, timur Jakarta.

Program DSFL dirancang bersama Asia Injury Prevention (AIP) Foundation, yang menjadi anggota United Nations Road Safety Collaboration (UNRSC), khusus untuk negara-negara di Asia, terutama di negara-negara ASEAN. Program DSFL ini gencar dilakukan di Asia, masih menurut Davy, karena saat ini Asia merupakan pasar potensial yang sangat berkembang. Setahun terakhir ini pasar Asia sudah melebihi pasar Amerika. Seperti kita ketahui, akibat resesi ekonomi yang melanda Amerika Serikat, setahun terakhir ini penjualan mobil di sana anjlok drastis dari 16.000.000 unit menjadi 10.000.000 unit. Sementara di China, untuk kurun waktu yang sama, penjualan mobil meningkat tajam, dari 7.000.000 unit menjadi 11.000.000 unit.

Melalui program DSFL ini, FMI ingin mengajak masyarakat mengubah mind-set cara berkendara. “Dengan program DSFL ini kami ingin berbagi pengetahuan bagaimana mengemudi secara cerdas yang dapat menjaga keselamatan kita dan menghemat bahan bakar,” tambah Davy.

Di Indonesia FMI mempercayakan pelaksanaan DSFL kepada Indonesia Defensive Driving Center (IDDC). Pelatihan sehari DSFL dibagi dalam dua sesi, kelas pada pagi hari dan praktek langsung di jalan setelah makan siang. Kegiatan di kelas berlangsung selama tiga jam, dan praktek berkendara sekitar empat jam.

Selama di kelas, peserta diajak memahami apa itu smart driving, mengemudi secara pintar. Smart driving terdiri dari tiga unsur, yaitu defensive driving, safety driving, dan eco-driving.

Defensive driving merupakan dasar utama yang harus kita miliki saat mengemudi. Menyangkut sikap, perilaku, dan mental kita saat berkendara. Terutama mengendalikan emosi diri. “Prinsip defensive driving adalah yang waras, yang ngalah. Kita harus terbiasa menginstropeksi diri saat berkendara. Sikap ini memang sangat sulit karena di jalan sering kali emosi kita gampang meledak-ledak,” jelas Dodi Budiono, instruktur IDDC yang memberikan materi pelajaran di kelas.

Sementara safety driving lebih pada ketrampilan dan teknik berkendara yang harus dimiliki. Ada sepuluh hal yang harus diperhatikan untuk safety driving ini: 1. Penggunaan safety belt, 2. Pengaturan kaca spion, 3. Sikap mawas diri, 4. Menghindari gangguan di dalam maupun di luar mobil, 5. Menjaga jarak aman, 6. Pengoperasian gigi transmisi, 7. Mempergunakan momentum kendaraan, 8. Mematikan mesin kendaraan, 9. Pemeriksaan awal kendaraan, dan 10. Beban berat pada kendaraan yang akan mempengaruhi konsumsi BBM.

Sedangkan eco-driving itu merupakan upaya yang dilakukan untuk menghemat bahan bakar dan menjaga keasrian lingkungan, terutama untuk mencegah polusi yang lebih tinggi.

Sesi yang paling seru, tentu saja, adalah praktek lapangan. Peserta dipandu langsung Bintarto Agung, juga instruktur berpengalaman dari IDDC. Peserta yang berjumlah 64 orang dibagi dalam delapan grup, masing-masing delapan orang, yang menjajal delapan mobil terbaru keluaran Ford. Terdiri dari Ford Everest, Ford Ranger, Ford Escape, dan Ford Focus. Seluruh mobil bertransmisi otomatis, hanya satu yang manual untuk Ford Ranger.

Peserta diajarkan bagaimana bermanuver slalom, melakukan pengereman mendadak di medan yang basah dan licin dengan sistem pengereman non-ABS dan ABS, serta menghadapi situasi mengerem secara mendadak dan melakukan manuver ke kanan atau ke kiri sesuai lampu yang menyala (lampu hijau mobil di belokkan ke kanan dan lampu merah mobil dibelokkan ke kiri).

Di tengah kegiatan praktek lapangan, tiba-tiba Presiden Direktur FMI Will Angove ikutan mencoba. Spontan para peserta merasa terkejut karena tidak menyangka orang nomor satu di FMI ini nekat terjun langsung. Apalagi, ia mencoba bagaimana mengatasi kendaraan yang mengerem mendadak dengan sistem pengereman non-ABS. Ia berhasil menjalani praktek itu. Peserta pun memberi aplaus panjang kepada Will Angove. “Ternyata, seru sekali, ya. Saya begitu menikmati praktek tadi,” kata Mr. Angove, yang dulunya adalah seorang pembalap mobil di negerinya Australia.

Meski berlangsung lama, para peserta tidak merasa bosan. Karena selain sudah menikmati makan siang yang sangat lezat dengan menu salad, makanan yang serba daging, dan dessert yang segar, selama praktek langsung peserta bebas memilih makan bakso atau snacks serta minum jus maupun soft drink sepuas-puasnya. Selain itu, peserta juga disuguhi totonan mirip Police Academy di Ancol dan adegan film Fast & Furious oleh instruktur IDDS yang sudah berpengalaman. Yaitu kejar-kejaran antara polisi dan penjahat yang mempraktekkan teknik mengemudi U-turn, J-turn, dan drfiting. Cara mereka mengendalikan mobil benar-benar “sinting” dan mengundang decak kagum seluruh peserta.

Lebih dari itu, tentu saja, seluruh peserta ingin mendapatkan sertifikat yang sangat berarti sebagai tanda lulus mengikuti kegiatan DSFL yang menarik ini. Menurut Communication Manager FMI Cepi S. Husada, peserta DSFL angkatan kesembilan ini merupakan angkatan terbaik dari keseluruhan DSFL yang pernah diselenggarakan FMI. “Kami salut dengan antusiasme peserta DSFL – Batch 9 ini yang sangat aktif berdiskusi di kelas sehingga waktu belajar bertambah hampir satu jam dan semangat sekali waktu mengikuti praktek langsung,” tutur Cepi.

Hingga saat ini, sambung Cepi, tak kurang dari 1.500 orang sudah mendapatkan pelatihan DSFL. Kegiatan DSFL ini akan terus dilakukan oleh Ford Motor Indonesia hingga beberapa tahun ke depan. Supaya banyak masyarakat yang semakin mengerti akan pentingnya berkendara yang aman untuk kehidupan. Padahal, investasi per orang untuk kegiatan ini terbilang mahal. Untuk mengikuti program DSFL ini biaya satu orang peserta tak kurang dari Rp 2,5 juta. Dan semua itu ditanggung semua oleh Ford Motor Indonesia alias gratis. Peserta tak perlu membayar sepeser pun untuk mengikuti program DSFL ini.

Rencananya, jadwal DSFL berikutnya adalah bulan Oktober mendatang. Anda tertarik ikut DSFL – Batch 10? Buruan segera mendaftar karena tempat terbatas. Informasi bisa dilihat di www.ford.co.id atau bisa juga bergabung jadi anggota DSFL Indonesia di facebook.

AH
10 Agustus 2009

Jumat, 07 Agustus 2009

WS RENDRA

Waktunya sudah tiba
Semua dari kita akan kembali, tak terkecuali dirimu

Ruang hati kami puluhan tahun telah kau penuhi dengan hidupnya kata-kata yang bermakna
Engkau membuka cakrawala pandang yang begitu luas akan arti kehidupan
Negeri zamrud khatulistiwa nan indah ini telah kau bawa namanya melanglang buana
Detak jantungmu dan nafasmu hanya untuk Tanah Air
Rindumu dan cinta kasih sayangmu kau persembahkan melulu bagi Ibu Pertiwi
Alam bersedih, wahai Si Burung Merak, ketika kau terbang tinggi menembus langit nun jauh di sana dan kau tak akan pernah kembali lagi....


AH
7 Agustus 2009
3:15
(Puisi ini untuk mengenang W.S. Rendra yang membawa pergi cintanya untuk seseorang yang ia kasihi)

Selasa, 04 Agustus 2009

Wawancara Imajiner EKSKLUSIF dengan Mbah Surip: "Saya Korban Industri Musik, Popularitas, dan Uang...."

Secara resmi, saya pertama kali melihat aksi panggung Mbah Surip dalam acara meriah peluncuran logo baru sebuah stasiun televisi di Balai Sidang Senayan, medio Maret 2004. Saat itu Mbah Surip tampil tidak on-air. Melainkan tampil untuk off-air cuma sekitar tiga menit – lima menit, ketika mengisi jeda lantaran tayangan iklan di televisi, untuk menghibur undangan yang hadir di situ. Dengan kata lain, Mbah Surip menjadi penggembira saja untuk audiens yang terbatas. Kalah moncer dibanding duet pendatang baru Ratu, yang saat itu masih digawangi Maia – Pinkan Mambo.

Penampilan Mbah Surip malam itu, yang cuma menjadi ban serep, sangat memukau. Mampu mengocok perut hadirin. Sampai terpingkal-pingkal. Kalau saya tidak salah mendengar, malam itu Mbah Surip sudah mengkampanyekan jargon “I Love You Full” berkali-kali. Pun malam itu Mbah Surip memamerkan cara dia tertawa ha-ha-ha-nya yang khas, lepas, menghibur. Dengan dandanan ala seniman yang terkesan jarang mandi, Mbah Surip sungguh gampang diingat.

Belakangan ini, tepatnya selama dua bulan ini, nama Mbah Surip langsung meroket ke langit ketujuh di jagat Nusantara. Lagu Tak Gendong melambungkan namanya ke atas awan. Nasib Mbah Surip bisa dibilang mirip seperti Tukul Arwana. Kalau Tukul berhasil menembus dunia talk-show sebagai host berwajah tidak tampan, Mbah Surip sukses memecahkan mitos kalau musisi atau penyanyi tidak harus bertampang ganteng (anggota Kangen Band malah ada yang lebih gak ganteng). Apalagi Mbah Surip sudah terbiasa menjalani hidup sebagai seorang rastaman yang ber-soul jah, mencintai sesama dengan cara apa adanya, lengkap dengan atribut topi kupluk dan syal berwarna-warni mer-ku-jo (merah-kuning-ijo).

Mbah Surip yang biasa hidup dengan orang-orang jalanan dan dekat comberan belakangan ini tiba-tiba hidup bergelimang uang. Kabarnya ring back tone lagu Tak Gendong terjual puluhan miliar rupiah. Dan setelah dikalkulasi bisnis, Mbah Surip dapat royalti tak kurang dari empat miliar rupiah, suatu angka yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Ia pun jadi sering tampil di layar kaca. Ditanggap dari satu panggung ke panggung lain. Tak terkecuali menjadi bintang iklan. Sayang, belum sempat menikmati hasil jerih payahnya bernilai miliaran rupiah itu, Mbah Surip keburu dipanggil Tuhan, pada Selasa 4 Agustus 2009 pukul 10 pagi lewat di Jakarta, dalam usia 60 tahun. Ia meninggalkan 4 anak, 4 cucu, 300.000 lebih penggemarnya di facebook, serta negeri yang dicintainya Indonesia.

Berikut wawancara imajiner eksklusif dengan Mbah Surip:

T: Apa kabar, Mbah Surip?

J: Hahaha.... Apik tenan, piss man...! I love you full.... Hahaha....

T: Sibuk sekali kelihatannya Si Mbah ini....

J: Hahaha.... Iya, ini, Si Mbah lagi sibuk sekali.... Ini baru aja selesai syuting di tivi-tivi, bikin videoklip, dan syuting untuk iklan lebarannya XL, padahal bulan puasanya aja belum datang.... Hahaha.... Sibuk, tho.... Manthep, tho.... Hahaha....

T: Sekarang, Si Mbah terkenal dan banyak uang....

J: Hahaha.... I love you full.... Saya dari dulu, memang, sudah merasa terkenal, setidaknya di keluarga saya dan teman-teman saya.... Hahaha.... Tapi apa betul Si Mbah banyak uang...? Hahaha....

T: Maksud Si Mbah...? Jangan bikin bingung, tho, Mbah....

J: Hahaha.... Iya, katanya saya dibilang banyak uang.... Uang saya miliaran.... Tapi saya kok belum pernah lihat kalau saya punya uang miliaran.... Hahaha....

T: Bukannya dari ring back tone lagu Tak Gendong laku sampai Rp 60 miliar dan Si Mbah dapat royalti lebih dari Rp 4 miliar....

J: Hahaha.... Apa itu royalti? Apa royalti berlaku di Indonesia? Hahaha.... Kalau Si Mbah suka makan roti sembari ngopi.... Hahaha.... Si Mbah taunya roti aja.... Hahaha....

T: Jadi Si Mbah belum dapat royalti sama sekali....

J: Hahaha.... Buktinya Si Mbah masih gini-gini aja, tho.... Enak, tho.... Hahaha....

T: Enak gak Mbah punya uang Rp 4 miliar....

J: Hahaha.... Enak gimana? Belum pegang uangnya saja dah banyak yang ngejar-ngejar.... Tiap hari banyak orang mencari saya.... Mendekati Si Mbah.... Disangkanya Si Mbah ini banyak uang, pegang uang miliar-miliaran.... Rumah Si Mbah rame terus kayak pasar malam.... Hahaha....

T: Jadi yang enak siapa dong Mbah?

J: (Mbah Surip tampak serius sedikit). Yang enak, ya, yang pegang industri musik. Entah itu perusahan rekaman musik atau provider telepon seluler. Mereka lah yang menikmati rezeki Si Mbah....

T: Dengan kata lain....

J: (Mbah Surip masih tampak serius sedikit). Seniman seperti Si Mbah ini cuma barang dagangan. Ketika laku di-eksploatasi gila-gilaan. Harus begini, harus begitu. Mesti ke sini, mesti ke situ. Setiap hari.... Si Mbah dibikin populer, terkenal di mana-mana, dikenal siapa saja, dari kakek nenek – bapak ibu – sampai anak cucu cicit.... Popularitas ini yang meningkatkan nilai jual Si Mbah. Dalam hal ini supaya lagu Si Mbah bisa laku terjual sebanyak-banyaknya.... Itu artinya, Si Mbah sudah jadi mesin pencetak uang yang jumlahnya tiap hari semakin bertambah banyak...sampai miliar-miliaran itu.... Inilah industri kapitalisme dan Si Mbah jadi sapi perahnya....

T: Tapi kelihatannya Si Mbah menikmati situasi ini....

J: (Mbah Surip sudah tidak begitu serius tampangnya). Ya, mau gimana lagi? Ya, harus dinikmati.... Mau tidak mau harus dinikmati.... Inilah hidup....

T: Ngomong-ngomong, Si Mbah masih suka nongkrong sama teman-teman di Bulungan – Blok M? Kan Si Mbah sekarang sudah kaya raya....

J: (Mbak Surip sudah tidak tegang lagi, kembali ke sifat asalnya). Hahaha.... Mana bisa saya lupa sama teman-teman di Bulungan.... Mereka kan sedulur saya. Sama saudara kita gak boleh lupa meski kita kaya, apalagi kalau kita miskin.... Kita harus tetap ingat sama saudara.... Hahaha.... I love you full.... Hahaha....

T: Apalagi Mbah yang seharusnya dilakukan sesama saudara....

J: Hahaha.... Sama saudara itu harus rukun.... Kita ini semua bersaudara harus rukun.... Kalau kita rukun, Indonesia pasti aman sejahtera. Karena gak ada yang gonthok-gonthokan, tho.... Semuanya bisa bekerja sama.... Indonesia pasti maju, Indonesia pasti mandiri.... Hahaha.... I love you Indonesia full.... Hahaha....

T: Apa yang akan dilakukan Si Mbah sekarang....

J: Hahaha.... Si Mbah capek.... Kurang tidur.... Kebanyakan ngerokok, kebanyakan ngopi.... Si Mbah mau tidur.... Hahaha.... I love you full.... Hahaha....

T: Ada yang mau disampaikan buat para penggemar Si Mbah yang ada di mana-mana...?

J: Hahaha.... Kayak ustadz saja Si Mbah ini.... Pokoknya, buat semua penggemar Si Mbah yang ada di mana saja, jangan sampai kalian kayak Si Mbah, ya.... Kalau bisa jangan merokok, karena rokok itu banyak racunnya.... Racun, kok, dibeli.... Hahaha.... Pokoknya, dari Si Mbah I love you full sama para penggemar semua.... Hahaha....

T: Cuma itu, Mbah....

J: Hahaha.... Mau apalagi...? Hahaha.... Mau duit dari Si Mbah...? Hahaha.... I love you full.... Hahaha.... Yo, wis, yo.... Si Mbah mau istirahat dulu, mau tidur dulu, jangan diganggu.... Hahaha....

AH

4 Agustus 2009

Minggu, 05 Juli 2009

Bagaimana Kalau yang Kalah SBY? (Judul Dibuat Semenarik Mungkin)

Dalam setiap permainan ada yang kalah.... Dan, tentu saja, ada yang menang….

Karena pemilu termasuk dalam jenis permainan, maka begitupun dalam pemilu ada yang kalah dan ada yang menang.....


Bagaimana kalau yang kalah, ternyata, juara bertahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)?

Berarti yang menang adalah Megawati Soekarno Putri (Mega) yang kalah di pemilu lalu atau juara baru Jusuf Kalla (JK)….


Bagaimana kalau yang kalah justru Mega?

Berarti yang menang ialah salah satu dari pasangan incumbent saat ini, bisa Presiden SBY atau bisa juga Wakil Presiden JK, namun keduanya sudah lama tak ”bersama kita bisa” lagi....


Bagaimana kalau yang kalah memang JK?

Berarti yang menang itu mantan presiden Mega atau SBY tambah lima tahun lagi....


Yang pasti, yang menang cuma satu.... Mega atau SBY atau JK saja....


Tetapi yang kalah bukan cuma dua.... Bukan Mega dan JK, bukan SBY dan JK, dan bukan Mega dan SBY....


Yang selalu kalah, faktanya, kita semua, rakyat kebanyakan....

Rakyat yang selalu ditelantarkan.

Rakyat yang selalu dinistakan.

Rakyat yang tertipu dengan janji-janji semu semua kontestan.Rakyat yang bisa diadu domba dengan kampanye palsu yang dibuat berkesan.

Rakyat yang namanya dicuri dan cuma digunakan sebagai bilangan untuk DPT yang menurut koran didata asal-asalan dan dibuat sembarangan.

Rakyat yang diambil suaranya untuk menentukan siapa yang akhirnya meraih kemenangan....


Yang jelas, yang menang selalu hanya menyenangkan kelompoknya...dan tak pernah peduli kepada kita, rakyat banyak....


Bagaimana kalau rakyat yang menang?

Sayang, rakyat tak pernah ikut sebagai salah satu kontestan dalam setiap pemilu yang katanya pesta demokrasi rakyat itu....

Rakyat selalu kalah dalam setiap pemilu, termasuk di tahun duaribu sembilan.

Rakyat kalah terus di setiap pemilu, entah sampai kapan....


(Indonesia, 5 Juli 2009)

Rabu, 31 Desember 2008

Jakarta di Ujung Tahun

Ibukota Jakarta masih akan seperti hutan rimba, siapa yang kuat dia yang menang.

Ini hari terakhir di tahun 2008.

Jakarta, secara keseluruhan, tampak lengang.

Toh, di beberapa ruas jalan tetap saja ada sedikit kemacetan. Berbeda dengan pagi yang lain, tumben-tumbenan di Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, pada Rabu tadi lalu lintas padat merayap. Beberapa sedan dan Kopaja terpaksa putar haluan, mencari jalan tikus. Usut punya usut, ternyata, penyebabnya adalah akan ada keputusan pengadilan tentang siapa dalang kematian aktivis kemanusiaan Munir. Aparat bersiaga penuh dekat sebuah pengadilan yang terletak tak jauh dari pertigaan lampu merah dan tetanggaan persis dengan sebuah salon totok wajah buat memancarkan aura daya tarik. Sementara barisan motor, yang belakangan ini menjadi raja jalanan dan sering bertingkah aneh-aneh, tetap melaju di jalan itu.

Tak lama, di tengah hari yang lumayan panas, hakim di pengadilan itu memutuskan dengan mengetuk palu. Terdakwa dinyatakan bebas. Bukan dia dalang pembunuh Munir, karena tak ada bukti yang memberatkan. Suciwati, istri sang aktivis, sangat kecewa. Bukan saja ia kehilangan separuh belahan jiwa. Ia juga merasa tak mendapatkan rasa keadilan di negaranya.

Kematian Munir, rupanya, tak berarti apa-apa. Bahwa ia mati dibunuh, tapi pengadilan tak bisa mengungkap siapa dalang utamanya. Ada pembunuhan, tapi tak ada pembunuhnya. Dalam pembunuhan itu yang ada hanya ada seorang yang mati. Yang mati itu bernama Munir. Yang mati itu dikenal sebagai aktivis kemanusiaan yang sering kali dianggap merepotkan karena berkaitan dengan pelanggaran hak-hak azasi manusia. Menurut laporan, Munir mati karena diracun. Adakah orang yang berpikiran sehat mau minum atau makan racun?

Munir tidak sendiri. Di Jakarta banyak orang yang mati tapi tak diketahui siapa pembunuhnya. Sebelumnya, menjelang reformasi, ada beberapa aktivis mahasiswa mati tertembus peluru di dekat Universitas Trisakti dan Jembatan Semanggi. Seperti Munir, pembunuh mereka sampai saat ini tak pernah diketahui.

Ibukota ini seperti hutan rimba. Siapa yang kuat, siapa yang berkuasa, dia merajalela. Yang kuat boleh membunuh. Yang berkuasa boleh mematikan orang lain. Tanpa pernah bisa tersentuh tangan hukum.

Ibukota ini tak pernah mau berubah. Dari tahun ke tahun. Dari tahun yang lama ke tahun yang baru. Tak akan pernah ada yang baru di tahun baru. Tahun baru tak pernah berarti apa-apa.

Tahun 2009 akan ramai. Karena menjelang pemilihan presiden. Semua orang mau menjadi presiden. Wajah kota menjadi kotor dan kumuh dipenuhi spanduk, umbul-umbul, baliho berisi wajah-wajah yang tidak kita kenal tapi mengumbar janji-janji surga. Sejak reformasi, bisnis pemilihan-pemilihan model begini sangat marak dan bikin muak. Rasanya, setiap waktu kita dihabiskan buat memilih pemimpin. Sementara mereka yang terpilih lupa akan janji-janji surga, justru membuat neraka-neraka dunia.

Sudah lebih dari setahun Bang Kumis tidak membuat perubahan yang berarti yang mengubah denyut nadi Jakarta. Bahkan mulai tahun ini membuat ide gila mewajibkan anak-anak sekolah mulai jam 6.30 pagi. Katanya buat mengurangi kemacetan. Tampaknya, ia sudah frustasi lantaran tak bisa mengerem laju pertumbuhan kendaraan sebagai biang kerok kemacetan di Jakarta. Karena Bang Kumis punya kuasa, maka ia perintahkan para pelajar yang tak berdaya buat berangkat sekolah sehabis sholat Subuh. Mereka berangkat masih dalam keadaan terkantuk-kantuk. Bisa dibayangkan kalau pada jam pertama mereka ada ulangan sementara semalam ngebut belajar.

Bang Kumis menjadi contoh. Bahwa orang hanya bernafsu ingin menjadi. Ketika hasrat itu terpenuhi maka yang terjadi adalah pejabat jadi-jadian. Ingin menjadi pejabat, jadinya pejabat jadi-jadian. Tanpa visi, tanpa misi. Sebagian warga Jakarta yang sinis memanjangkan nama Bang Kumis menjadi bangga menjadi kumuh dan miskin.

Jakarta juga mencatat kematian prestasi sepakbola Indonesia. Tim nasional sepakbola kita sudah satu level di bawah Thailand, Singapura, dan Vietnam. Kita tak pernah menjadi yang terbaik di Asia Tenggara, tapi berani mengkhayal setinggi langit Asia dan dunia. Sepakbola kita masih berisi kerusuhan supporter, perkelahian di atas lapangan hijau, dan kerugian miliaran rupiah yang ditanggung perusahaan yang menjadi sponsor. Pengurus sepakbola kita masih bolak-balik dengan urusan wajib lapor bebas bersyarat, cek kosong, dan jadwal kompetisi yang bisa berubah seenak jidat.

Ini hari terakhir di tahun 2008.

Jakarta, menjelang masuk tahun baru 2009, terbilang lengang.

Dan Jakarta pun tak pernah mau berubah. Tak pernah mengerti apa itu kata baru.

Jakarta masih akan tetap seperti hutan rimba.

(AH, 31 Desember 2008)

Selasa, 30 Desember 2008

Cita-citanya Tak Boleh Berhenti, Meski Bung Ronny Sudah Pergi

(Tulisan ini sudah dimuat di GOAL.com, http://www.goal.com/id-id/news/1571/fokus/2008/12/28/1030804/catatan-nasional-cita-citanya-tak-boleh-berhenti-meski-bung-ronn)


Hari Sabtu 27 Desember 2008 merupakan seratus hari meninggalnya salah satu legenda sepakbola nasional Ronny Pattinasarani yang wafat pada 19 September lalu. Di akhir hidupnya, ia sungguh prihatin dengan prestasi tim nasional Indonesia yang miskin prestasi dan manajemen sepakbola kita yang semakin amburadul.


Harus diakui saat ini prestasi sepakbola Indonesia berada di titik nadir. Jangankan untuk tingkat dunia dan Asia, di kawasan Asia Tenggara saja kita sudah paceklik prestasi selama 17 tahun ini. Terakhir kali Indonesia meraih medali emas SEA Games 1991. Setelah itu, tak satupun gelar bergengsi di kawasan Asia Tenggara dan Asia berhasil diraih. Alih-alih, kita malah kalah terus oleh tim yang dulu levelnya jauh di bawah tim nasional sepakbola Indonesia, sebut saja Vietnam dan Myanmar. Dua negara tetangga ini sepakbolanya terbilang maju pesat, sementara prestasi sepakbola Indonesia jalan di tempat.

Bangkit dan majunya sepakbola Indonesia inilah yang selalu dicita-citakan Ronny Pattinasarani, salah satu legenda sepakbola kita, dalam setiap langkah hidupnya. Cita-cita ini lah yang ingin ia wujudkan: ”Indonesia menjadi negara yang diakui di Asia dan dunia”.

Meraih cita-cita mulia itu, Bung Ronny, begitu ia biasa diakrabi, memulainya dari hal yang paling mendasar. Membina para pemain sepakbola sejak usia dini. Ia merintis pembangunan sekolah sepakbola untuk anak-anak (SSB). Hingga saat ini sudah banyak SSB-SSB lainnya tumbuh subur dan menyebar ke seluruh penjuru Tanah Air dan menampung bakat-bakat pesepakbola cilik.

Selain memulai SSB, Bung Ronny juga yang membawa futsal dan mempopulerkannya di Indonesia. Ia yakin bahwa futsal itu menjadi bagian integral dari pembangunan sepakbola modern. Ia, didukung McDonald’s Indonesia dan Harian KOMPAS, berkeliling ke sejumlah kota besar sepanjang tahun 2001 hingga berhasil membawa Indonesia sebagai tuan rumah Kejuaraan Asia Futsal setahun kemudian. Bung Ronny melihat korelasi yang kuat antara futsal dengan sepakbola. Di negara-negara yang sepakbolanya berkelas dunia – seperti Brasil, Spanyol, Iran, dan Jepang – perkembangan olahraga futsalnya juga sangat maju. Keempat negara itu dapat dikatakan menjadi langganan tampil di Piala Dunia.

Tiga tahun terakhir Bung Ronny semakin fokus mewujudkan cita-citanya. Sejak tahun 2006 ia membidani dan menangani Liga Medco, kejuaraan sepakbola resmi PSSI untuk anak-anak berusia 15 tahun. Ia sungguh beruntung mendapatkan dukungan penuh Arifin Panigoro, pendiri sekaligus pemilik MEDCO Group, untuk mewujudkan cita-citanya itu. Kesamaan visi kedua tokoh ini untuk memajukan sepakbola Indonesia melalui pemain-pemain berbakat sejak usia dini membuahkan hasil yang bagus melalui Liga Medco.

Selama tiga tahun ini Liga Medco, yang didukung penuh Medco Foundation, memberikan kesempatan kepada 1500 pesepakbola berbakat dari seluruh Indonesia tampil di pentas nasional. Mereka pun terjaring dan berhasil masuk skuad tim nasional sepakbola Indonesia U-15 dan U-16. Bahkan tim nasional Indonesia U-17 yang saat ini melakukan pemusatan latihan nasional selama dua tahun di Uruguay hampir diisi pemain-pemain yang berasal dari Liga Medco.

Dalam sebuah pertemuan pada tahun 2007 lalu, Arifin Panigoro sempat mendorong Ronny Pattinasarani untuk menjadi Ketua Umum PSSI. Dukungan Pak AP, begitu tokoh nasional ini dipanggil koleganya, setelah ia melihat segala upaya yang dilakukan Ronny selama ini untuk memajukan sepakbola Indonesia. “Ron, saya yakin kamu bisa memajukan sepakbola Indonesia. Sepakbola kita hanya bisa dibangun oleh orang yang mengerti, merasakan, dan mencintai sepakbola. Dan kamu punya itu semua. Kalau kamu mau (jadi Ketua Umum PSSI), pasti, saya akan bantu. Saya yakin kamu juga bisa sehebat Franz Beckenbauer dan Michel Platini yang sukses sebagai organisatoris di asosiasi sepakbola setelah sukses sebagai kapten tim nasional di negara masing-masing,” ungkap Pak AP meyakinkan Ronny, saat itu. Seperti halnya Beckenbauer dan Platini, jabatan kapten tim nasional pernah disandang Ronny.

Bung Ronny berterima kasih kepada Pak AP yang mempercayainya menjadi Ketua Umum PSSI. Tapi, bukan jabatan itu yang menjadi cita-citanya. “Saya ingin membina sepakbola melalui anak-anak. Karena dari sana lah sepakbola Indonesia akan menemukan masa depannya,” tuturnya. Dan selama tiga tahun menangani Liga Medco, cita-cita itu mulai menemukan titik terangnya.

Sayang, cita-citanya membawa Indonesia sebagai negara sepakbola berkelas dunia belum terwujud. Pada 19 September 2008 lalu, Bung Ronny kembali ke rumah Sang Khalik. Ia beristirahat di sebuah lapangan hijau yang sangat luas dengan danau berada di tengah-tengahnya.

Bagaimanapun cita-cita besar Bung Ronny masih harus kita lanjutkan, sampai Indonesia betul-betul menjadi negara yang punya nama di jagad sepakbola dunia. Sebuah upaya yang masih sangat panjang dan butuh keseriusan kerja kita semua secara bersama-sama.

Cita-cita mulia Bung Ronny untuk kejayaan sepakbola Indonesia tak boleh berhenti, meski dia sudah pergi….


ABI HASANTOSO, bekerja bersama Ronny Pattinasarani di Tim Pengembangan Futsal PSSI – McDonald’s Indonesia 2001 – 2002 dan Liga Medco 2006 – 2008



(AH, 27 Desember 2008)

CATATAN PIALA AFF 2008: Hanya Jalan Revolusi yang Dapat Menyelamatkan Sepakbola Indonesia

(Tulisan ini sudah dimuat di GOAL.com, http://www.goal.com/id-id/news/1571/fokus/2008/12/22/1024044/catatan-piala-aff-2008-hanya-jalan-revolusi-yang-dapat-menyelama)

Tim nasional sepakbola Indonesia gagal total di Piala AFF 2008, karena target menjadi juara tak bisa dipenuhi.

Kejadian final di sebuah turnamen pemanasan di Yangon, Myanmar, terulang lagi pada semi-final kedua turnamen resmi Piala AFF 2008 di Bangkok, Thailand. Sebulan lalu, pada Jumat (21/11) sore kita gagal mengalahkan tuan rumah Myanmar di final. Dan pada Sabtu (20/12) malam lalu kita juga kembali gagal mengalahkan sang tuan rumah, Thailand, sehingga gagal ke final Piala AFF yang tahun ini disebut dengan AFF Suzuki Cup 2008. Indonesia kalah 1-2 di dua turnamen itu, meski tak seorangpun pemain kita yang berhasil menjaringkan bola ke gawang lawan. Gol untuk Indonesia dicetak oleh pemain tuan rumah yang melakukan gol bunuh diri ke gawangnya sendiri...!

Pada pertandingan itu timnas Indonesia, tampaknya, bermain bertahan dan sesekali mencoba melakukan serangan balik ketika unggul lebih dulu 1-0 melalui gol bunuh diri pemain belakang Thailand, Chonlatit Jantakam, di menit ke-9 babak pertama. Pelatih Benny Dollo berharap para pemainnya bisa menahan skor itu hingga akhir babak kedua. Sehingga akan ada perpanjangan waktu – lalu berharap keberuntungan pada saat terjadi adu penalti – sehingga Indonesia kemungkinan bisa lolos ke final AFF Suzuki Cup 2008.

Tapi Thailand adalah sebuah tim yang haus kemenangan dan para pemainnya lapar mencetak gol. Tim Negeri Gajah Putih itu pun lalu melancarkan berbagai serangan dari segala penjuru lapangan untuk mengejar ketertinggalan dan memenangkan pertandingan atas Tim Merah-Putih. Setelah ketinggalan satu gol, Thailand pun mengurung Indonesia sepanjang sisa pertandingan. Pada menit ke-73, Thailand berhasil menyamakan kedudukan melalui gol indah yang dicetak Teerathep Winothai setelah menerima umpan matang dari Teerasil Dangda yang gagal disapu-bersih oleh center back kita, Muhammad Roby. Meski hasil imbang di kandang sudah dapat meloloskan ke final, para pemain Thailand tetap bernafsu menjebol gawang Indonesia . Akhirnya, gol kemenangan itu pun tercipta di menit-menit akhir pertandingan melalui tendangan keras pemain pengganti, Roonachai Rangsiyo, di menit ke-89.

Kemenangan itu, bagi tim Thailand , bagus untuk menjaga mental dan moral pemain untuk merebut gelar juara yang lepas tiga tahun lalu. Kemenangan ini juga menunjukkan betapa inginnya para pemain Thailand memenangkan setiap pertandingan yang dijalani sepanjang turnamen Piala AFF. Hingga menjelang final Piala AFF, di bawah pelatih berkelas Liga Premier Inggris, Peter Reid, Thailand menjadi satu-satunya tim yang tak pernah kalah dan hanya kebobolan satu gol, satu-satunya gol itu pun merupakan gol bunuh diri pemainnya sendiri bukan dicetak pemain lawan, lebih tepatnya bukan dicetak pemain Indonesia.

Thailand tahu dan sadar betul hanya kemenanganlah yang dapat membawa mereka melaju ke partai puncak final Piala AFF untuk kelima kalinya. Piala AFF adalah sebuah turnamen, seperti halnya Piala AFC dan Piala Dunia FIFA. Tim hanya memerlukan kemenangan, kemenangan, dan kemenangan untuk menjadi juara. Tim yang kalah adalah tim yang gagal. Dalam sebuah turnamen, sebuah tim tak bisa disebut sebagai tim yang baik kalau ia tak bisa lolos ke final dan menjadi juara. Karena sebuah turnamen itu memainkan sistem pertandingan knock-out, siapa yang kalah dia harus keluar lapangan. Pendek kata, juara sebuah turnamen itu hanya untuk tim-tim terbaik.

Dalam sepakbola, di luar faktor ”dewi fortuna”, tim yang tampil bermain menyerang pantas mendapatkan kemenangan. Meski ”bola itu bundar”, kemenangan juga perpihak kepada tim yang bersungguh-sungguh bekerja di atas lapangan hijau. Karena teori ”bola itu bundar” hanya berlaku bagi tim-tim yang mempunyai level sama, tapi tidak berlaku bagi tim yang beda kelas. Teori ”everything is possible in football” juga cuma berlaku bagi tim yang punya kemampuan setara dengan lawannya.

Maka, pantas lah bila Thailand yang melaju ke final Piala AFF tahun ini dan bertemu Vietnam yang secara mengejutkan berhasil menjungkalkan juara bertahan Singapura dalam pertandingan bermutu yang enak ditonton itu. Thailand berusaha mencatat sejarah sebagai negara pertama yang meraih gelar juara keempat kali dari lima kali final yang dijalani sepanjang turnamen Piala AFF. Sebelumnya, Thailand sudah mencatat sejarah sebagai negara yang meraih juara untuk pertama kalinya pada turnamen tertinggi di Asia Tenggara yang bergulir sejak tahun 1996 ini. Selama tujuh kali turnamen digelar, Thailand hanya dua kali gagal ke final Piala AFF yaitu pada tahun 1998 dan 2004 saja.

Sebetulnya, dalam sejarah Piala AFF, prestasi Indonesia sebelumnya cukup membanggakan. Indonesia pernah berhasil lolos ke final tiga kali berturut-turut. Tapi semuanya gagal jadi juara dan hanya jadi runner-up. Pada final Piala AFF 2000, Indonesia dijegal Thailand, 4-1. Berikutnya, di final Piala AFF 2002, lagi-lagi Indonesia dikalahkan Thailand melalui adu penalti, 4-2, setelah aggregat 2-2. Dan pada Piala AFF 2004, Indonesia dikalahkan Singapura dengan skor aggregat 5-2. Di tiga turnamen itu para penyerang Indonesia juga berhasil menjadi pencetak gol terbanyak melalui Gendut Doni (5 gol, 2000), Bambang Pamungkas (8 gol, 2002), serta Ilham Jaya Kesuma (7 gol, 2004).

Artinya, sudah hampir lima tahun ini sepakbola Indonesia terpuruk di Asia Tenggara. Faktanya, kita tak pernah berhasil meraih satu kali pun juara Piala AFF yang sudah tujuh kali diselenggarakan. Kalau mau dihitung mundur, prestasi terbaik sepakbola Indonesia di Asia Tenggara itu tercatat pada 17 tahun lalu. Itu pun melalui pesta olahraga akbar multi-cabang ketika berhasil meraih medali emas SEA Games yang berlangsung di Manila, Filipina, pada tahun 1991. Prestasi terbaik di SEA Games itu pun sudah lama sekali. Dan di turnamen yang khusus untuk sepakbola seperti Piala AFF, Indonesia belum pernah menjadi yang terbaik di Asia Tenggara.

Apakah kita masih akan terus ber-utopia bisa menjadi juara Piala Asia? Atau berkhayal bisa lolos ke Piala Dunia? Sementara untuk tingkat Asia Tenggara saja kita tak pernah bisa jadi juara.

Mari kita mencoba hidup dalam realitas yang sebenarnya. Realitasnya, sepakbola Indonesia, saat ini, betul-betul sedang terpuruk, meski belum masuk ke dasar jurang. Dan bila dibiarkan karena kita tidak peduli lagi, apakah kita mau sepakbola kita jatuh terkapar di dasar jurang?

Jutaan pendukung fanatik timnas Indonesia, termasuk saya, berkeyakinan bahwa sepakbola Indonesia masih bisa diselamatkan!

Hanya saja, untuk menyelematkan sepakbola nasional saat ini, satu-satunya jalan kita harus melakukan revolusi! Tidak ada pilihan lain. Revolusi sepakbola nasional saat ini merupakan satu-satunya keharusan yang harus kita tempuh untuk menyelamatkan dan membangkitkan sepakbola Indonesia. Dan, tentu saja, revolusi yang akan kita tempuh adalah revolusi yang damai, bukan revolusi melalui kekerasan.

Revolusi pertama adalah memberi kesempatan kepada para profesional yang memahami bahwa sepakbola adalah olahraga yang sangat disukai rakyat Indonesia dan dapat memberikan kebanggaan sebagai sebuah bangsa. Para pemilik suara, dalam hal ini pengurus daerah dan pengurus klub, yang menjadi perwakilan suara jutaan penggemar fanatik timnas Indonesia benar-benar bisa menentukan pilihan kepada pemimpin dan pengurus sepakbola kita yang profesional. Apakah kita mau melihat sepakbola Indonesia mundur di bawah kepengurusan seperti sekarang ini? Banyak yang bilang, mundurnya prestasi sepakbola Indonesia lantaran sepakbola kita dipimpin oleh orang-orang yang salah sehingga sepakbola kita berjalan amburadul dan kehilangan arah. Apakah sepakbola kita sudah kehilangan putera-putera terbaiknya untuk memimpin organisasi? Apakah sebagai sebuah bangsa kita tidak malu lantaran membangkang dari ketentuan baku yang sudah ditetapkan organisasi internasional tertinggi?

Revolusi kedua adalah mengembalikan liga utama kita kepada sistem kompetisi Galatama. Hanya klub-klub profesional saja yang layak berkompetisi. Saatnya kita mengelola kompetisi kita sebagai sebuah industri seperti yang terjadi di negara-negara yang sepakbolanya sudah maju. Klub-klub hidup melalui sponsor serta penjualan tiket dan merchandise klub, bukan mengandalkan dan menghambur-hamburkan dana miliaran rupiah dari APBD yang lebih pantas untuk digunakan bagi kesejahteraan masyarakat banyak seperti subsidi di bidang pendidikan dan kesehatan. Liga utama kita cukup terdiri dari 18-20 klub saja, tanpa pembagian wilayah, dan harus ada sistem degradasi dan promosi dari kompetisi di bawahnya. Seperti diketahui, J-League, liga utamanya Jepang, dulu menjadikan Galatama sebagai salah satu rujukan utama sebelum mereka membuat liga utama. Dan hasilnya, pada Minggu (21/12) lalu kita melihat Gamba Osaka meraih posisi ketiga Piala Dunia Antarklub FIFA. Maka, kita wajib mempertanyakan apa arti kata ”super” dari Liga Super Indonesia yang kita lihat gagal menarik penonton datang ke stadion-stadion?

Revolusi ketiga adalah menegakkan hukum. Pengurus sepakbola kita harus tegas dan berani menerapkan hukuman kepada tim-tim, pengurus klub, dan wasit yang melakukan pelanggaran, apalagi pelanggaran berat. Sebagai rujukan, sebelum ditangani David Stern, kompetisi bolabasket paling bergengsi di dunia, NBA, dulu menjadi tempat para pemain beradu jotos, wasit yang memihak, dan pengaturan skor oleh bandar judi. David Stern yang ahli hukum lalu membenahi NBA dengan cara menegakkan aturan main yang sudah disepakati bersama. Sampai saat ini NBA tidak segan-segan memberikan hukuman bagi pemain, ofisial, pemilik klub, maupun wasit yang melanggar peraturan. Hasilnya, kompetisi NBA kini semakin mendunia, bahkan pernah membuka kompetisi di Jepang dan China.

Revolusi keempat adalah membubarkan kelompok supporter. Karena kelompok supporter sudah memecah belah kita sebagai sebuah bangsa. Padahal, oleh para pendiri negeri ini, sepakbola dulu dicita-citakan dan dijadikan sebagai alat pemersatu bangsa. Hingga hari ini kita masih sering melihat ulah kelompok supporter yang sering mengamuk ketika timnya kalah. Apalagi secara sengaja sampai membakar stadion dan branding sponsorship. Ini tentu sangat merugikan para sponsor dan sepakbola kita sendiri. Karena ulah kelompok supporter yang lebih banyak negatifnya ini banyak orang-orang yang betul-betul cinta sepakbola enggan datang ke stadion. Kita bisa membedakan mana yang penonton sepakbola betulan dengan kelompok supporter pada saat timnas Indonesia bertanding. Kelompok supporter datang ke stadion dengan saltum, salah kostum, karena memakai kaos klubnya. Sementara pencinta bola sejati datang dengan kostum kebanggaan Merah-Putih. Kelompok supporter marah bila timnas kalah dengan cara melempar botol berisi air seni dari atas tribun, sementara penonton sepakbola betulan tetap berdiri memberi applaus.

Revolusi kelima adalah memperhatikan lebih serius pembinaan sepakbola usia dini, terutama untuk U-13, U-15, dan U-17. Kita harus memutar kompetisi usia dini secara berjenjang dan berkesinambungan. Karena di tiga tingkatan itulah kita mulai mendapatkan pemain-pemain berbakat yang bisa dijadikan bibit-bibit pemain di masa depan. Pemain-pemain tersebut tak perlu kita latih di luar negeri. Tapi dengan memberikan program yang terarah dan terukur dalam sebuah pemusatan latihan di Tanah Air.

Revolusi keenam adalah menggunakan jasa pelatih asing untuk menangani timnas kita. Kita masih melihat perlunya pelatih asing sebagai sesuatu yang sangat kita butuhkan untuk menangani para pemain kita yang suka bertindak aneh-aneh dan malas berlatih keras. Kita masih membutuhkan pelatih asing untuk menumbuhkan fighting spirit dalam permainan sepakbola. Kita perlu pelatih asing untuk meningkatkan kreativitas pemain-pemain kita, terutama saat membongkar pertahanan lawan dan mencetak gol. Kita perlu pelatih asing yang jujur dalam menilai kekuatan sendiri dan tim lawan. Kita perlu pelatih asing untuk kontrak jangka panjang dan kita harus sabar dengan program pelatihan yang disusunnya dan terbebas dari campur tangan pengurus.

Persoalannya, mungkinkah revolusi itu terjadi di bawah kepengurusan sekarang yang selalu membangkang ketentuan yang sudah diberikan FIFA sebagai regulator sepakbola dunia? Kalau tidak mungkin, apa yang akan kita lakukan sebagai pendukung fanatik timnas Indonesia yang sangat peduli dengan raihan prestasi tinggi untuk kebanggaan sebagai bangsa dan kejayaan sepakbola kita? Ayo, berbuatlah sesuatu! (*)

(AH, 22 Desember 2008)

Selasa, 23 Desember 2008

CATATAN PIALA AFF 2008: Kita Mulai Terbiasa dengan Kekalahan

(Tulisan ini sudah dimuat di GOAL.com, http://www.goal.com/id-id/news/1390/pssi/2008/12/18/1017609/catatan-piala-aff-2008-kita-mulai-terbiasa-dengan-kekalahan)


Setelah kalah dari Singapura di babak penyisihan untuk menentukan juara grup, kali ini sebagai tuan rumah tim nasional sepakbola Indonesia lagi-lagi kalah dari Thailand di semi-final pertama AFF Suzuki Cup 2008.


”Kenapa, ya, kita mulai terbiasa menerima kekalahan?”

Sebuah pertanyaan yang menggelitik dan menyentil ini dilontarkan seorang penonton dari tempat duduknya di VVIP Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat. Selasa (16/12) petang itu ia datang bersama lima temannya menjadi bagian dari 72.000 lebih supporter fanatik yang mendukung tim nasional Indonesia saat bertemu tim kuat Thailand di semi-final pertama AFF Suzuki Cup 2008.

Ia, juga para pendukung timnas yang selalu setia hadir ke Stadion Utama dan jutaan penonton televisi di rumah, berharap Indonesia menang di setiap pertandingan yang dijalani. Ternyata, bukan kemenangan yang didapat Indonesia. Tapi sebaliknya, lagi-lagi kekalahan yang menyesakkan!

Ia, juga para pendukung timnas yang selalu setia hadir ke Stadion Utama dan jutaan pendukung lainnya di seluruh Tanah Air, mengaku tidak akan pernah kapok mendukung timnas. Meski Indonesia kalah lagi, kalah lagi.

Sulit rasanya meraih kemenangan di tengah manajemen persepakbolaan kita yang hancur-lebur, carut-marut, dan absurd lantaran krisis kepemimpinan, keteladanan, dan moralitas. Sukar tampaknya ketika timnas Indonesia ditangani pelatih yang tak punya pola permainan dan miskin kreativitas, selain para pemain yang hanya bernafsu membawa bola berkeliling lapangan hijau tanpa tahu ke mana bola itu harus dialirkan secara akurat, cepat, dan para penyerang bisa mencetak gol ke gawang lawan di tengah penjagaan ketat lawan. Susah rasanya berharap pada pemain yang tidak merasa bangga berkostum Merah-Putih dan bermain tanpa nyali dan semangat tinggi, selain cuma berlari-lari ke sana ke mari.

Para pendukung fanatik timnas Indonesia, kini, mulai terbiasa dengan menerima kekalahan.

Seperti permainan Singapura saat perebutan juara grup, sejujurnya, di semi-final pertama Thailand juga bermain bertahan setelah berhasil mencuri satu gol di menit-menit awal pertandingan oleh striker bernomor punggung 10, Teerasil Dangda, di menit ketujuh babak pertama. Timnas Negeri Gajah Putih sengaja membiarkan para pemain kita bermain cepat seolah-olah timnas Merah-Putih bermain menyerang. Toh, pertahanan Thailand sulit ditembus. Lantaran duet penyerang kita, Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas, tak berkutik ditempel secara ketat oleh kuartet Suree Sukha, Chonlatit Jantakam, Nataporn Phanrit, dan Kapten Tim Thailand Datsakorn Tonglao.

Saking rapat dan ketatnya para pemain Thailand menempel, untuk melepaskan diri dan mencari bola, Budi bahkan beberapa kali sempat naik sampai ke tengah lapangan. Sementara BP jarang sekali mendapat bola karena dicegat lebih dulu para pemain belakang Thailand. Ini lah penampilan terburuk striker utama Indonesia itu di ajang AFF Suzuki Cup 2008. Bisa jadi ini akan menjadi penampilan terakhir BP di timnas, karena sebetulnya dia memang sudah tidak layak diberi tempat di timnas Indonesia. Meski perutnya belum begitu tambun seperti sang pelatih, reaksi BP sudah lamban dan ia sudah tak bisa melepaskan diri dari penjagaan pemain Thailand.

Bermain bertahan hampir dengan seluruh pemain di kotak penalti, Thailand sangat cepat ketika mendapatkan peluang menyerang balik. ”Seharusnya kami mencetak lebih banyak gol, tapi penjaga gawang Indonesia bermain baik,” kata Pelatih Thailand yang sudah malang melintang di Liga Premier Inggris, Peter Reid, memuji penampilan Markus Harison. Harus diakui, Markus tampil bagus di bawah mistar Indonesia. Ia menyelamatkan setidaknya tiga peluang Thailand yang mestinya menjadi gol. Markus tidak membuat kesalahan sama sekali. Satu-satunya gol Thailand yang bersarang ke jala gawang Indonesia bukan kesalahannya, tapi itu memang lantaran bangunan serangan yang dieksekusi secara jeli oleh Teerasil Dangda karena ia tak terkawal Kapten Timnas Charis Yulianto dan Nova Arianto.

Markus tidak salah, meski di akhir pertandingan ia terduduk lesu, badan lunglai, dan hati kecilnya menangis karena merasa bersalah atas gol yang terjadi saat Wasit Vo Minh Tri asal Vietnam membunyikan peluit panjang tanda pertandingan berakhir untuk kekalahan Indonesia.

Yang salah adalah Pelatih Benny Dollo. Bayangkan, sebelum turnamen bergulir ia berani sesumbar menargetkan gelar juara Piala AFF tahun ini untuk Indonesia padahal sebetulnya persiapan timnas ia akui sendiri tidak maksimal. “Waktu saya cuma sebentar untuk membentuk timnas ke Piala AFF,” jawab Bendol, panggilan akrab pelatih bertubuh tambun itu, seenaknya dan sekenanya saja. Lah kenapa ia yakin menjadi juara sementara ia sendiri merasa waktu persiapan sangat kurang. Lho memangnya dia tidak tahu kalau turnamen Piala AFF itu berlangsung dari 5 – 28 Desember dengan sistem knock-out, hanya tim pemenang yang berhak melaju ke final. Dengan kata lain, tak ada tempat di final bagi tim yang kalah seperti Indonesia!

Kita bisa menyimpulkan, apa yang dilakukan Bendol tak lebih dari omong besar yang tak didukung fakta yang dia miliki sendiri. Bagaimana bisa mengetahui kekuatan dua tim pemegang gelar Piala AFF, Thailand dan Singapura, yang bergantian menjadi juara selama 12 tahun ini jika ia masih mempermasalahkan kurangnya waktu bagi terbentuknya timnas yang ideal. Bendol hanya berkoar-koar seolah Indonesia adalah tim juara padahal kenyataannya tahu sendiri kan...!

Gelar juara Piala AFF, di atas kertas, tak mungkin diraih Indonesia. Memang, bola itu bundar. Tapi kelas kita saat ini setingkat di bawah Thailand, juga Singapura. Maka, Thailand pasti akan mengambil kemenangan di semi-final kedua yang akan dimainkan saat bertindak sebagai tuan rumah dengan dukungan puluhan ribu supporter fanatiknya. Mereka ingin mencetak rekor sebagai tim yang selalu menang dan tidak pernah kebobolan satu gol pun sepanjang turnamen, selain mencatat sejarah sebagai tim Asia Tenggara pertama yang berhasil menjuarai Piala AFF sebanyak empat kali! Tentu, ini juga menjadi ambisi pribadi Peter Reid untuk merebut gelar juara dari genggaman seteru abadi Singapura.

Kembali ke Bendol yang hanya umbar janji meraih Piala AFF, maukah ia mundur setelah gagal dan mengecewakan puluhan ribu supporter fanatik yang selalu setia memberi dukungan ke Stadion Utama Senayan dan jutaan lainnya yang selalu berharap di rumah? ”Saya merasa sudah berbuat yang terbaik buat timnas. Soal mundur urusan pengurus...,” papar Bendol yang datang terlambat saat jumpa wartawan usai pertandingan. Jawaban Bendol, tentu saja, mencontoh persis pengurus sepakbola kita yang tak mau mundur jika gagal.

Gagal di tingkat Asia Tenggara, Bendol tak mau mundur karena ia mungkin masih berencana membawa timnas Indonesia menjadi juara di level yang lebih tinggi, Asia, bahkan dunia. Eh, siapa tahu, Bendol berhasil. Selain bola itu bundar, kata Bendol, ”Everything is possible in football...!”

Penonton di VVIP tadi, juga 72.000 pendukung fanatik timnas Indonesia yang selalu datang ke Stadion Utama Senayan dan jutaan lainnya yang menonton televisi, sudah tidak peduli lagi dengan jawaban Bendol.

Ia, dan kita semua, sebaiknya mulai saat ini juga sudah harus terbiasa menerima kenyataan timnas Indonesia adalah sebuah tim yang selalu kalah dan gagal dalam sebuah turnamen resmi internasional. Timnas yang selalu kalah dan gagal ketika kita semua berharap untuk menang....

Maka, jangan lah lagi kita berharap timnas Indonesia bisa menang dan juara di Asia Tenggara. Sebaliknya, mari kita biasakan diri menerima kekalahan. Dengan bersikap menerima kekalahan seperti ini, seperti kata seorang psikolog, bisa membuat hidup kita wajar, terhindar dari stress, dan dijamin tak sampai harus dirawat di rumah sakit jiwa.

Sepakbola kita, tanda-tandanya sudah mulai terlihat lima tahun belakangan ini, boleh saja nantinya betulan sakit jiwa. Yang penting, dengan bersikap terbiasa menerima kekalahan, kita pendukung setia timnas Indonesia tetap sehat wal afiat dan masih bisa berpikir waras.

Mudah ditebak, di masa datang, sepakbola hanya akan menjadi olahraga berlari-lari dengan bola saja, karena akal sehat, kreativitas, serta semangat yang menyertainya sudah mati di atas lapangan hijau sepakbola Indonesia. Dan pada saatnya nanti pun sepakbola Indonesia cuma untuk olahraga iseng-iseng mencari keringat, bukan olahraga yang membanggakan rakyat...!

(AH, 17 Desember 2008)

Rabu, 17 Desember 2008

CATATAN PIALA AFF 2008: Kalah Kelas, Timnas Gagal Memberikan Kegembiraan

(Tulisan ini sudah dimuat di GOAL.com, http://www.goal.com/id-id/news/1387/nasional/2008/12/10/1005184/catatan-piala-aff-2008-kalah-kelas-timnas-gagal-memberikan-kegem)


Secara obyektif kita harus mengakui timnas sepakbola Indonesia saat ini bukan lagi yang terbaik di ASEAN.


Keinginan Pelatih Tim Nasional Indonesia Benny Dollo dan Kapten Tim Charis Yulianto yang ingin memberikan kemenangan di pertandingan terakhir babak penyisihan Grup A turnamen AFF Suzuki Cup 2008 hanyalah sebuah retorika belaka. Tak belih daripada psy-war menjelang pertandingan. Hanya sebuah perang urat syaraf, perang kata-kata kepada tim lawan menjelang pertandingan.

Ketika menghadapi pertandingan yang sesungguhnya, ternyata, hanya sebuah utopia. Mengharapkan yang tak mungkin sama sekali. Kemenangan yang diinginkan Pelatih Bendol dan Kapten Charis sebagai sebuah harga mati cuma khayalan semata.

Di atas lapangan timnas Indonesia tak membuktikannya dengan tindakan nyata. Pelatih Bendol menerapkan permainan tanpa taktik dan strategi yang jitu. Sementara Charis cs bermain seadannya. Dibanding dua pertandingan sebelumnya saat melawan Myanmar dan Kamboja, ini merupakan pertandingan terburuk Indonesia sepanjang babak penyisihan AFF Suzuki Cup 2008. Indonesia bermain menyerang tanpa bentuk, variasi, dan kreativitas.

Padahal, Singapura memilih bermain defensif dan mengandalkan serangan balik. Parahnya lagi, gol-gol kemenangan Singapura dihasilkan melalui bola-bola mati di awal-awal babak pertama dan babak kedua, tepatnya di menit ke-2 dan ke-50.

Pada pertandingan penting untuk menentukan juara grup, Pelatih Bendol masih mempercayakan the winning team di dua pertandingan sebelumnya saat menang 3-0 atas Myanmar dan 4-0 atas Kamboja. Banyak pihak yang menyayangkan Pelatih Bendol tidak menurunkan pemain-pemain yang punya gairah, punya nyali dan semangat tinggi, seperti Syamsul Bachri dan Aliyudin, sebagai pemain inti. Baik Syamsul dan Aliyudin keduanya merupakan pemain yang rajin menjelajah lapangan dan membuka ruang peluang saat menyerang. Mereka juga pemain-pemain yang mampu membakar semangat tim.

Ketika ditanya kenapa Pelatih Bendol tidak melakukan rotasi pemain, ia memberi jawaban yang sangat sumir. ”Kalau saya merotasi pemain dan ternyata kalah, nanti saya diserang juga,” kata Pelatih Bendol dengan nada tinggi saat konferensi pers usai pertandingan. Sebuah jawaban yang sama sekali tidak bertanggungjawab dari seorang pelatih yang sudah kehilangan akal sehatnya.

Iming-iming BTN memberikan bonus Rp 1 miliar sama sekali tidak menggugah rasa para pemain untuk menjadi yang terbaik di ASEAN. Mungkin, karena itu pula BTN berani memberikan bonus setara peraih medali emas Olimpiade. BTN, mungkin, tahu sulit memacu semangat pemain. Satu-satunya yang memungkinkan adalah memberi uang segudang. Terlebih lagi banyak pemain yang mata duitan. Tapi tetap saja pancingan itu sama sekali tak berarti apa-apa untuk memompa semangat pemain meraih kemenangan.

Singapura, memang, tim berkelas. Di luar naturalisasi tujuh pemain asing yang memperkuat timnas Negeri Singa itu, mereka bermain sangat rapi dan disiplin. Ketika tim Indonesia menyerang dan mendapatkan bola mati dari tendangan bebas atau tendangan sudut, 8 pemain bersiaga membentengi gawan Lionel Lewis. Hanya menyisakan Kapten Tim Indra Sahdan sebagai jangkar penghubung dengan penyerang Agu Casmir yang stand-by di baris terdepan yang siap menerima bola. Pelatih Radojko Avramovic tahu bagaimana caranya menaklukkan Indonesia. Seperti di dua pertandingan sebelumnya, Singapura mencuri gol kemenangan di menit-menit awal. Sehingga tim lawan merasa terbebani. Apalagi timnas Indonesia yang didukung para penonton fanatiknya.

Kita kembali gagal memenangi pertandingan melawan Singapura di ajang sepakbola tertinggi di ASEAN ini. Kita juga malu karena tak bisa mencetak satu pun gol ke gawang negeri jiran itu. Myanmar saja mampu memberi perlawanan dengan mencetak satu gol ke gawang Singapura. Kalau melihat fakta ini, kita tidak lebih baik dibanding Myanmar.

Dengan kata lain, kelas kita sudah lebih rendah satu tingkat dibanding Singapura. Kita kini hanya menjadi tim medioker yang hanya bisa menang melawan tim lemah seperti Myanmar dan Kamboja. Kita masih kesulitan menghadapi tim yang bersemangat tinggi seperti Vietnam. Dan merasa senang kalau bisa main draw dengan Malaysia. Melawan Thailand? Jangan harap bisa menang. Kelas Thailand sama seperti Singapura.

Pantas kalau hanya Thailand dan Singapura saja yang mampu merajai turnamen yang digelar sejak tahun 1996 ini. Keduanya, memang, lebih pantas tampil di final ketujuh Piala AFF ini. Thailand atau Singapura akan menentukan diri siapa yang berhasil memecahkan rekor menjuarai turnamen ini sebanyak empat kali. Apapun hasilnya, Thailand dan Singapura memang dua tim yang terbaik di ASEAN saat ini!

Kapan Indonesia bisa berbicara lagi di ASEAN, setelah 17 tahun lalu meraih medali emas SEA Games?

Hari ini timnas kita lagi-lagi gagal memberikan kegembiraan pada pendukung fanatiknya. Padahal kemenangan inilah satu-satunya hiburan yang menyenangkan hati sepanjang tahun ini karena timnas kita di bawah kendali Pelatih Bendol paceklik prestasi internasional.

Untuk membangun timnas yang tangguh dan punya karakter, saya berpendapat, pertama-tama kita harus mencari pelatih asing minimal sekelas Peter Withe atau Ivan Kolev. Kalau bisa, tentunya berkaitan dengan budget yang dimiliki, kita dapat pelatih asing yang kualifikasinya melebihi dua pelatih asing di timnas terdahulu.

Buat pelatih Bendol cukup sampai di sini saja. Biarlah ia ”dibandrol” ke klub-klub yang berminat mengontraknya untuk kompetisi lokal.

(AH, 9 Desember 2008)

CATATAN PIALA AFF 2008: Timnas Melangkah Tanpa Gairah

(Tulisan ini sudah dimuat di GOAL.com, http://www.goal.com/id-id/news/1387/nasional/2008/12/08/1002029/catatan-piala-aff-2008-timnas-melangkah-tanpa-gairah)


Pada pertandingan terakhir babak penyisihan Grup A Piala AFF 2008, Selasa (9/11), Indonesia harus mengalahkan Singapura dan menjadi juara grup untuk memberi kegembiraan kepada para pendukungnya.


Sepakbola adalah gairah. Sepakbola itu menggairahkan. Sepakbola itu kegairahan.

Karena menggairahkan hidup serta memberi kegairahan pada pikiran dan jiwa umat manusia, sepakbola dapat diterima menjadi olahraga yang paling digemari di seluruh dunia. Bukan saja orang-orang langsung bermain sepakbola, tapi banyak orang datang ke stadion untuk menonton sepakbola. Karena gairah ini, di beberapa negara bahkan sepakbola sudah menjadi semacam ritual ibadah tersendiri.

Sepakbola yang menggairahkan dan mendorong kegairahan justru tidak tampak pada penampilan kedua babak penyisihan Grup A tim nasional sepakbola Indonesia saat menghadapi tim lemah Kamboja di Gelora Bung Karno Senayan Jakarta, Minggu (7/12) malam. Maka para penonton yang merupakan pendukung fanatik pun kecewa menyaksikan penampilan Indonesia yang bermain seperti kurang bernafsu di atas lapangan rumput hijau.

Meski skor akhir yang dicetak lebih baik, 4-0 (1-0), dibanding pertandingan sebelumnya melawan Myanmar (3-0), sesungguhnya, Indonesia tampil lebih buruk. Lagi-lagi, sepakbola, memang bukan soal skor akhir pertandingan. Tapi juga menyangkut kegairahan penampilan para pemain saat memainkan bola di atas lapangan.

Koordinasi yang buruk, penguasaan bola yang lemah, serta umpan-umpan yang sering salah sasaran tampak menonjol dan dipertontonkan berulang-ulang. Komunikasi antarpemain juga kurang terjalin rapi. Stamina yang menurun juga membuat para pemain tampil kedodoran.

Soal stamina para pemain, memang, menjadi keprihatinan kita bersama. Bagaimana mau bergairah bila stamina tidak mendukung. Padahal pelatih fisik di timnas Indonesia saat ini merupakan yang terbaik. Dia lah Octavianus Matakupan, salah satu physical trainer terbaik yang kita miliki. Dia sudah berpengalaman saat mempersiapkan tim pendakian Himalaya, klub bolabasket Aspac, klub sepakbola Persikota, tim ahli kebugaran di KONI Pusat dan KONI Daerah Banten, sebelum ditarik Pelatih Benny Dollo bergabung ke timnas Indonesia.

”Banyak pemain yang tidak menjaga kondisi tubuhnya saat kembali ke klub. Ketika masuk pemusatan timnas, saya sering kali harus bekerja keras membuat program untuk mengembalikan mereka pada kondisi terbaik,” jelas Octav, suatu hari. Dengan kata lain, klub tidak terlalu mementingkan latihan fisik yang terprogram.

Stamina yang buruk, sehingga para pemain cepat lelah dan mudah kehilangan konsentrasi, ini lah pangkal penyebab timnas kita kehilangan gairah permainan saat melawan Kamboja. Perlu stamina ekstra untuk bisa bermain konsisten penuh konsentrasi selama 2 x 45 menit.

Kita bersyukur, Budi Sudarsono membuat hat-trick dan menjadikannya topskor sementara turnamen ini bersama Agu Casmir (Singapura) dengan total empat gol dari dua pertandingan yang sudah dilalui. Budi termasuk salah satu pemain yang bergairah membela timnas Indonesia. Ia berlari mencari ruang. Menggangu konsentrasi pertahanan para pemain Kamboja. Dan pada saat yang tepat, ia memanfaatkan peluang-peluang emas menjadi gol-gol yang indah. Ia pantas mendapat julukan ”Budigol” dari para penggemar. Gayanya mengingatkan kita pada striker asal Argentina yang meroket di ”La Viola” Fiorentina, Gabriel Batitusta, yang dipanggil dengan ”Batigol”.

Berbeda dengan Bambang Pamungkas (BP). Sudah saatnya Pelatih Bendol memberikan kesempatan kepada Aliyudin, tandemnya di Persija Jakarta, untuk berduet dengan ”Budigol” pada pertandingan terakhir melawan Singapura dan partai semifinal nanti.

BP bermain terlalu salon dan tidak mau berkeringat. Hanya mencetak masing-masing satu gol di dua pertandingan bukti bahwa BP sudah kehilangan gairah bermain di timnas. Padahal dia lah striker utama timnas Indonesia. Saatnya, Pelatih Bendol harus berani seperti Pelatih Timnas Spanyol Luis Aragones yang tidak memanggil Raul Gonzales, meski pemain ini merupakan idola para penggemar sepakbola Negeri Matador. Toh, BP cuma dibangku-cadangankan sementara sampai gairah bermainnya kembali pulih. BP tetap ada dalam daftar pemain pengganti timnas, nasibnya masih lebih baik dibanding Raul yang hanya bisa menonton pertandingan Piala Eropa.

Selain Aliyudin, Pelatih Bendol wajib memasukkan pemain penuh gairah seperti Syamsul Bachri dalam skuad inti. Pemain ini selalu bermain kesetanan dengan stamina seperti kuda jingkrak. Ia pantas mengisi posisi Ponaryo Astaman sebagai gelandang serang yang juga kuat bertahan. Ketika ia masuk, penampilan timnas terlihat lebih bergairah.

Berbeda dengan Elie Aiboy yang bukan saja tidak bergairah, tapi main seadanya. Duel satu lawan satu saja ia sudah tidak bisa. Penampilan Elie bisa merusak citra produk minuman berenergi internasional yang dibintanginya sebagai local hero. Ia tidak mencitrakan pemain nasional yang “keep going everyday”. Tapi seorang pemain timnas yang loyo. Boro-boro bisa menyamai citra Wayne Rooney, bintang sepakbola Inggris, untuk iklan produk yang sama.

Saat ini, timnas Indonesia memerlukan para pemain yang bergairah di atas lapangan hijau. Bukan cuma para pemain yang percaya diri. Tugas Pelatih Bendol menemukan mereka, supaya sepakbola Indonesia bisa berjaya.

Indonesia, memang, sudah mengantungi satu tiket semifinal AFF Suzuki Cup 2008. Kita jangan buru-buru membicarakan peluang kita di semifinal, apalagi final. Sebaiknya , Indonesia fokus di pertandingan terakhir melawan Singapura di babak penyisihan Grup A. Menghadapi Singapura, sang pemegang gelar juara bertahan Piala AFF dua tahun berturut-turut, timnas Indonesia harus berisi pemain-pemain yang punya gairah dan semangat juang tinggi. Kita harus memenangi pertandingan itu dan menjadi juara grup. Karena itulah satu-satu peluang yang bisa memberikan kegembiraan kepada publik pencinta sepakbola di Tanah Air di tengah paceklik prestasi yang membanggakan selama 17 tahun terakhir ini.

Tidak bisa tidak, Indonesia harus mengalahkan Singapura!

(AH, 8 Desember 2008)

CATATAN PIALA AFF 2008: Menang Pada Laga Pertama Bukan Jaminan Indonesia Juara

(Tulisan ini sudah dimuat di GOAL.com, http://www.goal.com/id-id/news/1387/nasional/2008/12/07/1000130/catatan-piala-aff-2008-menang-pada-laga-pertama-bukan-jaminan-in)


Indonesia masih harus melalui serangkaian pertandingan berat melawan Singapura, Malaysia, dan Thailand, sebelum mengukuhkan diri menjadi yang terbaik di sepakbola ASEAN. Prestasi terbaik Indonesia diraih 17 tahun lalu melalui medali emas SEA Games yang berlangsung di Manila, Filipina.


Tim nasional sepakbola Indonesia , yang baru saja gagal di sebuah turnamen antarnegara di Myanmar, memulai turnamen Piala ASEAN berjuluk AFF Suzuki Cup 2008 dengan hasil lumayan. Pada pertandingan pertama Piala ASEAN, Jumat (5/12), berhasil menang 3-0 (2-0) atas tamunya, Myanmar , sekaligus membalas kekalahan dua minggu lalu.

Menang telak 3-0, kok, dibilang lumayan?

Lumayan, memang.

Karena kemenangan yang diraih itu merupakan kemenangan individu. Bukan kemenangan sebagai sebuah tim.

”Secara keseluruhan, penampilan timnas Indonesia biasa-biasa saja. Jangan lihat skor (berapa gol yang dicetak), ya,” kata Bambang Nurdiansyah, mantan penyerang timnas Indonesia yang kini menjadi pelatih, usai pertandingan ketika ditemui wartawan di VIP Barat Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta.

Permainan Indonesia melawan Myanmar masih meninggalkan sejumlah catatan. Terutama kerjasama tim antar lini belakang – tengah – depan. Para pemain belakang kita, yang dikoordinasi Kapten Tim Charis Yulianto masih kurang ketat menutup ruang gerak pemain depan Myanmar. Beberapa kali peluang tercipta oleh Myanmar. Bahkan di babak kedua, ada dua peluang Myanmar yang nyaris memperkecil kekalahan. Untung saja, satu bola berhasil di-tip Kiper Markus Harison dan satu sundulan lagi terbang tipis di atas mistar Indonesia.

Untung ada Budi Sudarsono, yang dengan gaya khasnya mengelabui satu dua pemain lawan di kotak penalti, mencetak gol dengan indah sehingga Indonesia unggul 1-0. Gol ini, memang, mampu meningkatkan semangat para pemain kita. Namun, lagi-lagi kita tak memiliki bangunan serangan yang dirancang dengan baik. Kita juga terlalu memaksakan menyerang dari sayap kanan. Sementara sayap kiri kita nyaris kurang memberikan kontribusi umpan matang kepada Penyerang Bambang Pamungkas (BP) di kotak penalti.

Gol kedua Indonesia merupakan kecerdikan pemain yang selalu tampil penuh semangat, Firman Utina, yang memang pantas menjadi man of the match. Firman mempersembahkan gol penting itu untuk ayahnya dan anaknya yang sedang sakit. Kita tentu berharap keduanya lekas sembuh. Sehingga Firman bisa lebih berkonsentrasi lagi pada laga-laga penting berikutnya yang masih harus dijalani.

Masuknya Aliyudin, duet BP di Persija Jakarta, membawa berkah buat BP. Pemain yang konon bergaji paling mahal di Liga Super Indonesia itu, memang, belakangan sangat mandul dan paceklik gol. Kalau BP tak mencetak gol lagi banyak orang yang meminta Pelatih Benny Dolo untuk mendudukannya di bangku cadangan. Biar BP tahu bahwa banyak orang berharap pada keahlian dia mencetak gol ke gawang lawan. Dari penetrasi Aliyudin yang merobek daerah kiri pertahanan Myanmar, akhirnya, BP mencetak gol indah yang mengecoh Kiper Aung Aung Oo meski ia dihalangi pemain belakang lawan.

Di menit-menit akhir, Pelatih Bendol memasukkan dua pemain senior berpengalaman, Elie Aiboy dan Erol Iba. Kedua pemain ini cukup membuat pertahanan lawan kocar-kacir. Bahkan sebuah tandukan Erol di masa injury time nyaris memperbesar kemenangan Indonesia.

Ada baiknya, di dua pertandingan tersisa melawan Kamboja (Minggu 7/12) dan Singapura (Selasa, 9/12), Indonesia turun dengan formasi terbaiknya. Aliyudin, Elie, dan Erol sebaiknya masuk dalam tim inti. Kamboja harus diatasi kalau kita ingin memastikan diri melaju ke babak semifinal Piala ASEAN. Ini penting supaya Indonesia semakin matang saat menghadapi Singapura dalam pertandingan yang sesungguhnya di hari terakhir babak penyisihan Grup A. Kemenangan ini setidaknya menjadi modal yang baik sebelum jumpa Thailand atau Malaysia di semifinal AFF Suzuki Cup 2008 ini.

Itu artinya, kemenangan atas Myanmar, juga atas Kamboja dan Singapura yang sangat kita harapkan, masih akan mengalami tantangan berat di babak semifinal. Apalagi kalau timnas Indonesia masuk final. Menjadi juara, memang, harapan seluruh rakyat Indonesia. Karena Indonesia terakhir kali menjadi yang terbaik di sepakbola tingkat ASEAN sudah lama sekali, 17 tahun lalu, saat timnas meraih medali emas di SEA Games Manila pada tahun 1991.

Kita berharap kerjasama dan semangat juang tinggi timnas Indonesia semakin menghebat di puncak turnamen AFF Suzuki Cup 2008. Masa juara ASEAN aja gak bisa? Masa kita hanya puas dengan turnamen di dalam negeri sendiri?

Pertanyaan yang harus dijawab di atas lapangan. Tentu kita berharap kepada seluruh anggota timnas, bukan hanya mengandalkan permainan individu-individu semata.

Maka, menang pada laga pertama bukan berarti menjamin Indonesia bakal jadi juara kalau timnas kita tak bisa mengalahkan Singapura, Malaysia, dan Thailand.

(AH, 7 Desember 2008)