Senin, 24 Agustus 2009

Malaysia Boleh, Selama Indonesia Tak Punya Harga Diri

Di akhir tahun 90-an, pemerintah Malaysia mencanangkan program Malaysia Boleh. Kata boleh di sini berarti hebat alias top sekali. Sejumlah pencapaian prestisius dicanangkan. Antara lain berdirinya beberapa bangunan fisik yang dijadikan landmark negeri jiran itu, seperti Menara Kembar Petronas, Kuala Lumpur International Airport, dan Sirkuit Internasional Sepang.

Bukan cuma bangunan-bangunan fisik itu saja yang masuk dalam program Malaysia Boleh. Diam-diam pemerintah Malaysia pada saat itu ingin menaklukkan puncak tertinggi di dunia, Mount Everest. Sebuah tim khusus dibentuk pemerintah Malaysia untuk pendakian ke atap tertinggi di dunia itu. Tim ini pun dipersiapkan secara serius dalam jangka waktu lama di Rusia. Tentunya, “proyek rahasia ini” menghabiskan pula biaya yang sangat besar. Lantaran tim ini memperkerjakan ahli-ahli terbaik dari Negeri Beruang Merah itu. Tugas tim ini hanya satu: menancapkan bendera Malaysia di puncak tertinggi di bumi ini!

Rencana prestisius Malaysia Boleh ke Mount Everest, rupanya, sampai ke telinga Komandan Kopassus (waktu itu) Mayjen TNI Prabowo Subianto. Salah seorang mantu Presiden Soeharto ini lalu mempersiapkan tim yang sama dengan waktu yang sesingkat-singkatnya (karena memang mempunyai keterbatasan waktu dan dana) yang dilatih di Pusdiklat Kopassus. Targetnya cuma satu: Tim Pendaki Gunung Indonesia harus mendahului tim Malaysia Boleh mencapai puncak Mount Everest.

Singkat kata, meski dengan pengorbanan yang sangat besar yang dialami dua orang pendakinya, Tim Indonesia sukses mengibarkan bendera Merah-Putih lebih dulu di puncak tertinggi di dunia itu. Selangkah lebih maju, mendahului tim Malaysia Boleh. Dengan kata lain, Malaysia boleh-boleh saja punya rencana ke Mount Everest, tapi faktanya Indonesia lah yang pertama tiba di sana. Tim Malaysia Boleh bisa dibilang gagal hebat, dan hanya bisa menggigit jari.... Panglima ABRI (waktu itu) Faisal Tanjung didampingi Prabowo langsung datang dengan helikopter memberikan ucapan selamat kepada Tim Pendaki Indonesia yang sukses “melibas” tim Malaysia Boleh di Mount Everest.

Kalau boleh menduga-duga apa yang ada di benak Prabowo saat itu, agaknya, dia tak mau Indonesia disaingi oleh sebuah negeri sangat kecil yang luasnya cuma sepersekian persen dari Pulau Kalimantan kita yang mahaluas itu untuk menjadi yang pertama meraih puncak Mount Everest. Bagi Prabowo, Mount Everest adalah simbol tertinggi dunia. Dan bangsa Indonesia sebagai salah satu negara terbesar di Asia harus tiba di sana lebih dulu, tak boleh didahului oleh tetangganya.

Tapi tak lama, gerakan reformasi merontokkan kekuasan Pak Harto. Karena dianggap sebagai bagian Keluarga Cendana, Prabowo pun terkena getahnya. Lebih parah dari itu, akibat gerakan reformasi yang tak jelas arahnya itu, bangsa Indonesia kian terpuruk. Keterpurukan itu pun masih terasa sampai saat ini.

Indonesia, kini, terbalik-balik jungkir balik. Menjadi negara yang limbung, bingung, linglung. Lupa akan kebesarannya. Lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai simbol negara sampai lupa dinyanyikan di sebuah acara kenegaraan.

Sekarang, terutama delapan tahun terakhir ini, giliran Malaysia yang unjuk kebolehan. Negeri jiran itu “mempermainkan” Indonesia dengan cara “merampas” sebagian warisan khas asli milik Ibu Pertiwi. Dua tahun belakangan ini, bahkan Malaysia selalu cari gara-gara. Mulai dari klaim atas lagu Rasa Sayange, motif batik, Reog Ponorogo (memang ada daerah di Malaysia yang bernama sama Ponorogo?), angklung, dan kini yang paling mutakhir klaim atas Tari Pendet yang jelas-jelas itu dari Bali (memang ada Bali juga di Malaysia?). Dan yang paling menyakitkan sebetulnya adalah penghancuran Indonesia sehancur-hancurnya yang dilakukan secara terang-terangan oleh seorang teroris asal Malaysia bernama Noordin M. Top yang sampai saat ini tidak bisa kita tangkap, dalam keadaan hidup-hidup ataupun mati.

Sampai kapan Indonesia akan terus “dipermainkan” Malaysia? Dan juga negara-negara lainnya?

Jawabannya adalah selama Indonesia tak punya harga diri sebagai sebuah bangsa yang besar.

Sayang, Prabowo bukan presiden kita. Dan Tuhan hanya sekali mengirim Soekarno, seorang presiden berdarah campuran Jawa Timur - Bali yang berani berkata, “Ganyang Malaysia!”

AH
24 Agustus 2009

Tidak ada komentar: